Menerapkan Keteladanan Hidup

Menerapkan Keteladanan Hidup
Pada bahasan bab-bab teori penulis telah mengemukakan beberapa bentuk keteladanan yang mempengaruhi perilaku anak. Bentuk-bentuk keteladanan itu dapat diterapkan oleh orangtua sehingga mempengaruhi anak terhadap godaan-godaan kejahatan yang marak terjadi pada anak. Beberapa bentuk keteladanan orantua bila diterapkankan maka diharapkan dapat menolong anak dalam pembentukan perilaku positif. Dengan kata lain bila orangtua menerapkan keteladanan hidup maka anak-anak tertolong dari pengaruh kejahatan.

Orangtua hendaknya menerapkan keteladanan dalam keluarga. Dalam berbagai pernyataan telah dikemukakan bahwa pada intinya ada kekuatan pengaruh keteladanan orangtua pada pembentukan kepribadian anak. Bila orangtua ingin agar anaknya tetap berperilaku positif atau yang sudah terlibat dalam kejahatan agar kembali kepada perilaku yang baik maka orangtua segera hidup dalam keteladanan. Masyarakat bertanggung jawab atas perilaku anak supaya baik, negara juga demikian. Gereja pun menginginkan agar anak berperilaku baik, tetapi orangtua memiliki pengaruh yang kuat untuk anak. Oleh karena itu implikasi pembahasan keteladanan orangtua bagi hubungan orangtua dan anak dapat diterapkan beberapa keteladanan. Artinya masih banyak bentuk-bentuk keteladanan yang perlu diterapkan orangtua dalam keluarga Kristen demi mempengaruhi anaknya pada pembentukan kepribadian yang baik. Beberapa implikasi bentuk keteladanan dapat diimplikasikan sebagai berikut.

1. Pemenuhan kebutuhan anak dari aspek materi. Kemampuan orangtua berbeda dalam hal materi tetapi setiap orangtua memiliki kewajiban yang sama yaitu bekerja sebaik-baiknya untuk memperoleh hasil demi memenuhi kebutuhan jasmani anak. Sering anak menjadi nakal karena kebutuhan jasmani tidak terpenuhi kemudian berusaha mewujudkan kekecewaan tersebut dalam perilaku negatif. Pilih kasih dalam pemenuhan kebutuhan anak juga harus dihindari semaksimalnya karena aspek ini pun menjadi salah satu sebab anak terlibat dalam kejahatan.

2. Orangtua mengimplikasikan perannya sebagai motivator dan komunikator dalam keluarga. Anak membutuhkan dorongan dalam menjalani kehidupan nyata maka anak membutuhkan seorang motivator. Motivator pertama dan utama dalam keluarga adalah orangtuanya. Dengan demikian implikasi hubungan orangtua dan anak dalam mengantisipasi perilaku anak adalah kesediaan orangtua menerapkan dirinya sebagai motivator-motivator bagi anak-anaknya di dalam keluarga. Anak pasti akan mendapat motivator di luar keluarga, tetapi dalam keluarga, anak sudah memiliki motivator yang siap memberi dorongan-dorongan yang berpengaruh bagi kepribadian anak. Motivasi dari orangtua kepada anak dapat berupa nasihat atau pemberian hadiah kepada anak ketika anak berhasil dalam suatu perjuangan. Hadiah tersebut tidak harus berupa materi, tetapi dapat berupa kata-kata pujian ketika anak melakukan suatu kegiatan atau sebelum memulai suatu kegiatan. Kata-kata pujian yang tulus dari orangtua akan memberi pengaruh yang kuat bagi anak dalam aktivitasnya. Bila orangtua menerapkan keteladanan dalam hal motivator bagi anak maka anak memiliki tokoh idola dalam dirinya, dan idola ini tentu menyenangkan anak dalam kehidupannya.

3. Keteladanan rohani. Hubungan orangtua dan anak dalam kaitan dengan implikasi pembahasan isi skripsi Bab II dan III adalah bahwa orangtua mengimplikasikan keteladanan rohani dalam keluarga. Kehidupan anak tidak hanya terdiri atas jasmani, tetapi rohani juga. Kedua suasana kehidupan ini harus terjaga secara baik dengan cara orangtua menerapkan keteladanan, khususnya keteladanan dalam kehidupan rohani. Doa bersama pada waktu sebelum tidur dan sesudah bangun tidur, membaca Alkitab dan menerangkannya dengan pimpinan Roh Kudus. Dikatakan demikian karena Roh Kuduslah yang membuat isi Alkitab dapat dimengerti oleh orang percaya.

Isi kehidupan rohani dalam keluarga adalah Alkitab. Maka keteladanan dalam kehidupan rohani yang perlu diterapkan dalam hubungan orangtua dan anak adalah hiduplah sesuai dengan ajaran kitab suci (Alkitab), sambil memohon pimpinan Roh Kudus agar segala kebenaran dalam Alkitab dapat dilakukan secara baik dalam kehidupan orangtua sehingga berpengaruh bagi kepribadian anak.

Ada banyak tawaran lingkungan kepada anak untuk tergoda melakukan kejahatan namun bila orangtua menerapkan keteladanan dalam kehidupan rohani yang berpusatkan pada Kristus seraya memohon pimpinan Roh Kudus maka niscaya semua dapat berlangsung secara baik dalam pimpinan Tuhan. Dan dengan demikian anak pun terjaga dari godaan-godaan kejahatan.

4. Hubungan orangtua dan anak juga ditandai dengan implikasi menjadi orangtua yang inspiratif dalam merancang masa depan anak. Memang tidak semua orangtua memiliki kemampuan dalam merancang masa depan anak, tetapi apa pun kemampuan yang ada pada orangtua, masa depan anak harus direncanakan. Memang benar bahwa di tangan Tuhanlah masa depan anak, orangtua hanya berencana. Setiap anak yang masa depannya dirancang secara baik akan menjadi pribadi-pribadi yang baik pula. Sering anak menjadi nakal karena masa depannya tidak direncanakan secara baik oleh orangtua. Orangtua yang merancang masa depan anak pasti menyediakan apa yang dibutuhkan oleh anak dalam mewujudkan perencanaan tersebut. Dengan bersandar kepada Tuhan sambil berusaha dengan segala kemampuan yang Tuhan beri maka pasti anak memiliki masa depan yang baik sehingga anak tertolong pula dalam perilaku yang memuliakan Tuhan atau anak terhindar dari melakukan kejahatan. Orangtua akan merencanakan masa depan anaknya dengan memasukkan anak ke TK, SD, SMP, SMA dan Perguruan Tinggi yang dikehendaki orangtua. Ada pula orangtua yang merencanakan masa depan anak menjadi seorang pendeta dengan memasukan anak ke Perguruan Tinggi Teologi dan lain-lain. Intinya orangtua dapat mengimplikasikan keteladanan dalam hal perencanaan masa depan bagi anak sehinga anak tertolong untuk tidak terlibat dalam kejahatan. Beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam implikasi hubungan orangtua dan anak tentang keteladanan orangtua sebagai perencana masa depan anak adalah kemampuan orangtua, yaitu kemampuan biaya dan lain-lain.

5. Hubungan orang tua dan anak juga berhubungan dengan kemampuan dalam mengambil keputusan, disiplin dan aspek-aspek yang terkait. Orangtua harus menerapkan keputusan yang tepat karena keputusan yang tepat akan mempengaruhi kehidupan anak.

Pada bab sebelumnya penulis telah mengetengahkan bahwa pada dasarnya aktivitas manusia dalam keseluruhan hidupnya merupakan rangkaian pengambilan keputusan yang berkesinambungan. Di sini jelas bahwa tidak ada kegiatan manusia, khususnya orangtua tanpa tidak ada pengambilan keputusan.

Jadi, setiap orangtua dapat mengimplikasikan keputusan-keputusan yang berhubungan dengan pembentukan perilaku anak. Berbagai keputusan yang diambil orangtua terhadap anak harus dilakukan secara baik dengan jalan mendoakan, memohon pimpinan Tuhan melalui karya Roh Kudus agar setiap pengambilan keputusan terhadap anak dapat menolong anak mewujudkan perilaku yang baik sesuai dengan kehendak Tuhan, keluarga, dan masyarakat.

Implikasi tentang keteladanan pengambilan keputusan yang akan diterapkan oleh orangtua dalam praktiknya harus melibatkan seluruh anggota keluarga. Anak-anak harus dilibatkan dalam pengambilan keputusan Keteladanan orangtua yang mempengaruhi perilaku anak juga erat berhubungan dengan disiplin yang diberikan orangtua. Melalui disiplin, perilaku seorang anak akan lebih serasi dan seimbang dengan tuntutan ketentuan yang berlaku sehingga dapat menunjang terwujudnya kualitas hidup yang lebih bermakna. Penegakan disiplin yang akan diterapkan oleh orangtua biasanya mempengaruhi perkembangan psikologi anak. Maksudnya disiplin yang baik dari orangtua akan membentuk kepribadian anak secara baik, sebaliknya disiplin yang kurang atau berlebihan akan membentuk perilaku anak yang tidak sesuai dengan harapan berbagai pihak.

6. Orangtua dapat mengimplikasikan keteladanan dalam merawat, mendidik, dan berdoa. Keteladanan pada sub bahasan ini sedikit banyak berhubungan dengan seorang ibu dalam keluarga. Seorang ibu memilki keteladan dalam beberapa hal yang berbeda dengan keteladanan seorang ayah. Seorang ibu adalah seorang wanita yang telah mengandung dan melahirkan anak. Seorang ibu dalam keluarga memilki keteladanan dalam tugas, peran, dan tanggung jawab untuk mewujudkan fungsi-fungsi keibuan seperti merawat, mengasuh, dan mendidik dalam mengembangkan kepribadian, baik yang berlangsung di keluarga maupun di luar keluarga.

Dalam bab sebelumnya telah dikatakan bahwa anak-anak yang nakal dapat berubah ke kehidupan yang baik karena ada ibu yang senantiasa mendoakan anak-anaknya. Dalam implikasi bab ini, orangtua hendaknya tidak henti-hentinya mendoakan anak-anaknya. Anak yang nakal bila didoakan dengan setia oleh orangtua mustahil tambah nakal, tetapi anak akan menjadi berubah perilaku hidupnya.

Bagian terakhir menegaskan bahwa keteladan ibu pada anak juga ditampilkan melalui kesetiaan dalam doa terhadap anak-anaknya. Berbagai syair lagu-lagu Kristen mengungkapkan pengalaman ini, misalnya syair lagu: Di doa ibu kudengar namaku disebut”. Seorang ibu yang setia berdoa untuk anak-anaknya, pasti anak-anaknya di ubah oleh Tuhan menjadi anak-anak yang berperilaku baik.

Jadi, hubungan orangtua dan anak sebagai bagian dari implikasi uraian bab sebelumnya adalah bahwa orangtua, khususnya seorang ibu dapat menerapakan keteladanan yang berkait erat dengan fungsi seorang ibu, secara khusus kesetiaan mendoakan anak-anaknya.

Salam
Read More

Allah Pendidik Pertama dan Utama

Allah Pendidik Pertama dan Utama
Allah adalah pendidik pertama dan utama, Ia mendidik manusia pertama, di Taman Eden, Tuhan memberi perintah untuk mengusahakan dan memelihara Taman, Tuhan Allah memberi perintah kepada Adam dan Hawa untuk melakukan hal-hal yang dikehendaki Tuhan, dan mematuhi larangan Tuhan (Kej. 2:15-16). Ketika manusia itu berdosa, Tuhan tetap datang kepada Adam dan Hawa dan memberi Janji Sulung penebusan (Kej. 3:15). Ada perintah Tuhan dan larangan, semuanya merupakan isi pengajaran Tuhan kepada manusia pertama. Sebelumnya, yaitu pada Kejadian 1:28 dan 29 yaitu Tuhan memberi perintah kepada Adam dan Hawa untuk beranak cucu, boleh dikatakan, Tuhan mendidik manusia dengan pengajaran akan keturunan, pada ayat 29, Tuhan mendidik Adam dan Hawa tentang makanan yang harus dimakan oleh Adam dan Hawa. Jadi Tuhan mendidik Adam dan Hawa di Taman Eden, Selanjutnya Tuhan mendidik Nuh, Abraham, Ishak, dan Yakup sampai terpilihnya Israel sebagai sebuah bangsa pilihan, Tuhan tetap mendidik umat-Nya. Pendidikan itu diteruskan sampai datangnya Yesus Kristus, Ia menjadi guru dan memanggil murid-murid-Nya untuk diajar dan diutus mengajar orang lain yang belum percaya kepada Yesus.

Pendidikan sebagaimana yang dimaksudkan di atas, tidak hanya dilakukan oleh Tuhan tetapi Tuhan memberi perintah kepada umat-Nya untuk melakukan tugas mendidik itu kepada anak-anak. Di dalam Ulangan 6:1-9, Tuhan memberi perintah kepada orangtua untuk mengajar anak akan keesaan Tuhan. Dalam Perjanjian Baru juga ada perintah untuk orangtua melaksanakan tugasnya dalam mendidik anak.

Kegiatan pendidikan itu mulai berkembang dari waktu ke waktu sampai munculnya sekolah modern, kegiatan mendidik dan mengajar yang dilaksanakan di keluarga, kemudian juga menjadi tanggung jawab sekolah. Di sekolah dilaksanakan kegiatan mendidik dan mengajar anak-anak yang biasa disebut dengan sebutan peserta didik.

Sejak adanya sekolah secara formal yang dimulai dari TK, SD, SMP, SMA, Perguruan Tinggi, para orngtua mulai berlomba-lomba mengirim anaknya untuk dididik di sekolah agar menjadi manusia yang berguna. Harapan dan cita-cita orangtua yang mengirim anaknya sekolah di lembaga formal pun beragam, ada orangtua yang inging agar anaknya berprestasi di kelas, memperoleh hasil nilai yang dapat memuaskan orangtua atau membanggakan orangtua. Pada akhir semester selalu ada penerimaan rapor untuk peserta didik pada tingkat SD, SMP dan SMA. Pada moment ini, anak dan orangtua ingin mengetahui apakah hasil belajar anak dapat menjadi kebanggaan bagi anak, khususnya orangtua. Akan tetapi kenyataannya orangtua merasa kecewa karena anak tidak mendapat rangking, atau prestasi yang baik, ada anak yang mengalami kesulitan dalam pelajaran Matematika, Ekonomi dan ada pula beberapa mata pelajaran yang tidak memenuhi standar kesuksesasan. Akan kenyataan ini, orangtua bereaksi memarahi anak, anak dianggap kurang maksimal belajar, orangtua menjadi kecewa dan mulai membandingkan dengan anak-anak tetangga yang mendapat nilai bagus. Akhirnya anak mejadi tertekan dan menangis, merasa kehilangan kepercayaan diri. Anak berada dalam tekanan-tekanan, khususnya ketika mempelajari pelajaran-pelajaran yang menurut pengakuan anak sulit untuk dikuasai.

Dalam suatu sumber dinyatakan, kehadiran seorang anak dilingkungan keluarga merupakan suatu anugerah yang tidak ternilai harganya, ia merupakan anugerah ajaib yang diberikan Tuhan kepada para orangtua. Sumber ini melanjutkan lagi dengan menyatakan: tidak bisa dipungkiri, bahwa anak memberi warna tersendiri dalam keluarga, kehadiran anak memberikan arti yang tidak bisa dibandingkan dengan apapun. Maka tidak heran bila ada ungkapan yang biasa di dengar dilingkungan sekolah tempat anak-anak belajar dan itu diyakini oleh para guru, yaitu setiap anak adalah bintang. Ungkapan setiap anak adalah bintang sebenarnya mampu memberikan rasa percaya diri yang lebih kepada anak baik di lingkungan sekolah maupun di rumah.

Salam
Read More

Teladan Hidup Orangtua Terhadap Anak

Teladan Hidup Orangtua Terhadap Anak
Pengertian Teladan Hidup orangtua

Menrut Paul David Tripp, Allah telah merencanakan agar keluarga berfungsi sebagai komunitas teologis. Yang dimaksud disini yaitu bagian utama dari kehidupan keluarga adalah bahwa Allah ada dan bahwa kita adalah ciptaanNya. Dengan begitu, apa yang orangtua pikirkan, katakan, dan lakukan dalam kehidupan setiap hari mesti menjadi teladan bagi anak-anak, pada satu sisi adalah tanda atau bukti dari aktivitas kejiwaan orangtua (aspek psikologis), pada sisi yang lain apa yang dipikirkan dan diperbuat orangtua yang didasarkan pada sabda Tuhan harus dipahami sebagai tanda atau bukti implikasi logis dari aspek teologis (perbuatan yang baik yang didorong oleh kesadaran akan ketaatan pada firman Tuhan).
Pesan utama dari natur hubungan dalam keluarga antar keluarga akan diajarkan melalui cara orangtua berbicara satu sama lain, melayani satu sama lain, membuat keputusan dan menangani perbedaan yang ada di antara mereka. Melalui teladan hidup yang baik maka orangtua dalam keluarga adalah motivator pertama dan utama untuk bekal hidup anak selanjutnya.
Keluarga Kristen tidak pernah boleh memandang kehidupan sebatas hubungan-hubungan dan keadaan-keadaan duniawi; orangtua harus selalu membawa anak-anak untuk terus bertanya tentang Allah, kehendak-Nya dan karya-Nya. Setiap orangtua mesti mempraktikkan isi kepercayaannya kepada Tuhan yaitu menjalani kehidupan dalam kesadaran akan adanya Allah momen demi momen; bahwa keluarga harus memandang segala sesuatu merujuk kepada Allah, siapa Dia, apa yang dilakukan-Nya bagi manusia dan apa yang Dia inginkan dalam hidup keluarga.
Pendidikan rohani anak-anak tidak selalu harus melalui upacara keagamaan Kristen. Dikatakan demikian karena tingkah laku, perbuatan orangtua beriman yang konsisten bisa lebih ampuh mengajar sekaligus menjadi teladan untuk membentuk anak-anak yang sehat mental dan spiritual. Salah satu teladan yang dipandang penting dan cukup menentukan untuk membentuk agar anak-anak menjadi anak yang bertanggung jawab adalah teladan disiplin. Disiplin berarti mengajar dan melatih. Disiplin berasal dari kata disciple yang berarti seorang murid/pelajar. Ini berarti bahwa dalam menjalankan disiplin ada keinginan untuk terus belajar dan melatih diri. Sasarannya adalah antara lain agar anak bertingkah laku pantas sehingga terjadi keserasian, mencegah masalah-masalah yang timbul pada saat anak-anak kelak tumbuh dewasa.
James Dobson pada tahun 1970 menulis sebuah buku yang diberi judul Berani Mendisiplin. Ia menyatakan bahwa karena tindakan permisif dari para orangtua maka banyak anak yang salah tingkah dan kehilangan arah kehidupan. Kontrol yang kuat (disiplin) adalah kunci kepada kasih yang sejati.
Teladan/sikap orang-orang yang berarti bagi anak (masa prenatal dan masa pascanatal ) sangat menentukan perilaku anak kemudian. Pandangan psikologis pada periode pranatal dipusatkan pada kondisi-kondisi fisik dalam tubuh ibu yang mengandung menentukan perkembangan pada kehidupan pascanatal yang kemudian berlanjut sampai akhir hidup sang anak.
Sikap keluarga terhadap anak-anak dan terhadap peran orangtua biasanya terbentuk pada awal kehidupan, meskipun baru terwujud pada saat individu mengetahui bahwa ia akan segera menjadi orangtua. Banyak faktor yang mempengaruhi pembentukan sikap orangtua terhadap anak. Berikut beberapa contoh: Pertama, pengalaman awal masa muda orangtua terhadap anak-anak menentukan bagaimana perasaan orangtua tentang anak-anak pada umumnya dan tentang peran di masa mendatang sebagai orangtua. Seorang wanita, misalnya yang dahulu harus membantu merawat adik-adiknya mungkin mempunyai sikap yang kurang menyenangkan terhadap anak-anak di kemudian hari, atau seorang wanita yang dibesarkan sebagai anak tunggal mungkin ingin mempunyai banyak anak untuk mengatasi rasa kesepian masa mudanya yang lalu. Kedua, pengalaman dengan teman-teman, baik di masa lalu maupun sekarang, mewarnai sikap individu. Misalnya, seorang pemuda yang mendengar keluhan teman-temannya tentang kesulitan keuangan yang dihadapi sebagai orangtua, memutuskan bahwa sebaiknya ia tidak mempunyai anak agar kelak hidupnya tidak sulit. Ketiga, sikap terhadap jenis kelamin dari anak yang belum dilahirkan dapat dipengaruhi oleh gagasan stereotip, misalnya bahwa anak laki-laki “sulit diatur.”
Banyak kondisi yang mempengaruhi sikap orangtua, saudara-saudara kandung dan nenek/kakek terhadap seorang anak, baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan, misalnya sikap yang menginginkan kehebatan anak lelakinya melebihi dirinya sehingga sering memaksakan kehendaknya atau sikap saudara kandung yang tampaknya sering bersaing untuk mendapat perhatian lebih dari orangtua.

Jadi keteladanan orangtua adalah sikap atau perbuatan baik orangtua yang berpengaruh terhadap perilaku anak. Hal ini berlangsung dalam proses waktu. Ada pula yang terasa dalam proses waktu yang sedang berlangsung, tetapi ada pula keteladanan orangtua terhadap perilaku anak yang membutuhkan waktu yang panjang. Artinya keteladan orangtua dapat langsung berpengaruh pada masa kini dari seorang anak tetapi ada pula pada masa yang akan datang.

Murray menyatakan: Kekuatan dalam mendidik anak tidak terletak pada perkataan atau pengajaran kita, tetapi pada diri dan tindakan ayah dan ibu. Tidak pada yang kita pikirkan tentang pengajaran ideal bagi anak kita, tetapi melalui hidup, kita mendidik mereka. Bukan harapan atau teori kita, tetapi kemauan dan kehidupan nyata kitalah yang mendidik mereka. Dengan hidup seperti Kristus kita membuktikan bahwa kita mengasihi kehidupan Kristus, bahwa kita memilikinya, dan dengan demikian mempengaruhi orang muda untuk juga mencintai dan memilikinya”.
Searah dengan kebenaran di atas, John C. Maxwell menyatakan, dari semua pendidikan yang saya terima dari orangtua saya, yang paling penting adalah teladan mereka. Secara konsisten mereka menerapkan hal-hal yang mereka ajarkan. Dan meneladankan adalah cara mengajar yang paling bertahan lama.
Apa yang diajarkan oleh orangtua akan berpengaruh besar terhadap anak, bila orangtua hidup dalam apa yang diajarkan. Anak tidak merasa hambar karena meihat orangtua berintegritas. Orangtua menyatu dalam kata dan perbuatan. Inilah pengaruh keteladan orangtua terhadap kepribadian anak.
Implikasinya, yakni orangtua hendaknya memiliki pemahaman tentang perkembangan anak. Anak yang terlibat dalam kenakalan dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satu faktor yang dapat mempengaruhi perilaku anak adalah perilaku negatif dalam keluarga. Misalnya keluarga yang tidak harmonis dapat menyebabkan anak berperilaku negatif. Sebaliknya keluarga dapat mempengaruhi anak dalam perilaku positif karena adanya keteladanan orangtua. Berikut ini penulis akan paparkan beberapa implikasi bagi hubungan antara orangtua dan anak.

Dalam hubungan orangtua dengan anak hendaknya orangtua berusaha mengerti perkembangan psikologi anak. Ini tidak bermaksud menjadikan orangtua menjadi ahli psikologi, tetapi orangtua dapat memahami perkembangan jiwa anak melalui pengalaman atau melalui bacaan-bacaan/buku yang berhubungan dengan psikologi anak. Informasi para pakar psikologi yang pendapatnya dikemukakan dalam buku dapat menjadi informasi yang sangat berguna bagi orangtua dalam memahami berbagai perilaku yang terjadi pada anak yang berkait erat dengan perkembangan jiwa.
Perkembangan jiwa yang perlu diketahui yaitu perkembangan jiwa anak usia balita, usia pra sekolah, usia sekolah sampai pada remaja dan pemuda. Dengan mengetahui gambaran umum tentang perilaku anak yang berhubungan dengan perkembangan jiwa anak maka orangtua tertolong untuk menunjukkan perilaku-perilaku yang cocok untuk setiap anak. Perilaku orangtua yang dimaksud adalah keteladanan. Misalnya, keteladanan orangtua dalam memberi disiplin sangat berkait dengan anak dan perkembangan jiwanya. Disiplin anak kecil berbeda dengan disiplin terhadap anak remaja dan seterusnya. Ini berarti bahwa gambaran orangtua tentang kepribadian anak sesuai dengan teori-teori psikologi sangat dibutuhkan.

Anak remaja pada hakikatnya cenderung mencari idola. Ini dapat dimaklumi bila orangtua tahu perkembangan jiwa anak dan perilaku-perilaku yang muncul bersesuaian dengan pertambahan usia tersebut. Keinginan anak remaja akan idola dapat diarahkan secara baik bila orangtua memahami perkembangan jiwa anak. Anak tidak dipersalahkan karena mencari idola di luar keluarga, tetapi kebutuhan anak remaja akan idola dapat diarahkan secara positif sehingga tidak merugikan anak remaja.
Pemahaman akan prilaku anak tidak hanya berkait dengan perilaku positif, tetapi juga berhubungan dengan kecenderungan anak terlibat dalam perilaku negatif sebagai akibat dari berbagai pengaruh yang terjadi pada anak. Sejak awal bab ini penulis telah menyatakan bahwa banyak faktor yang menyebabkan anak berperilaku negatif sehingga orangtua bertanggung jawab untuk mengantisipasi berbagai tantangan lingkungan yang akan mempengaruhi anak terlibat dalam kejahatan. Salah satu faktor yang dapat dikatakan kuat mempengaruhi perilaku anak adalah adanya keteladanan orangtua.

Read More
[facebook]