Psikologi Keluarga: arti metode bimbingan pranikah

Psikologi Keluarga: arti metode bimbingan pranikah
Metode bimbingan pranikah adalah cara yang dipakai oleh gereja dalam memberi bimbingan terstruktur terhadap pasangan yang akan melangsungkan pemberkatan nikah di gereja. Dalam konteks pelayanan, metode bimbingan pranikah adalah cara yang dipakai oleh para pelayan untuk menyampaikan materi bimbingan pranikah yang dikemas dalam bentuk modul-modul pelajaran sehingga kedua pasangan yang akan menikah memahami ajaran Alkitab tentang pernikahan yang akan menopangnya dalam mempertahankan kelangsungan pernikahan dalam keharmonisan sebagai pengikut Kristus yang berada dalam lingkup pelayanan organisasi Gereja

Sedangkan pernikahan menurut Alkitab diartikan peristiwa seorang laki-laki meninggalkan ayah dan ibunya dan menjadi satu daging dengan seorang perempuan: “Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.” (Kejadian 2:24). Pengertian kata menjadi satu daging di sini bukan semata-mata mengacu kepada hubungan seksual. Ada beberapa kata yang dikontraskan yaitu meninggalkan, menyerahkan; dan menggantungkan diri, memegang erat-erat.

Dalam hubungan dengan pernikahan Kristen, Micha N.L. Tobing member definisi sebagai berikut. Pernikahan Kristen adalah ikatan dan persekutuan hidup yang menyeluruh (total) dari seorang pria/suami dengan seorang wanita/istri yang telah diteguhkan Allah dalam pernikahan kudus; yang meliputi Roh, jiwa dan tubuh; masa kini dan masa yang akan dating (sampai salah seorang meninggal dunia), dengan tujuan untuk membentuk secara bertanggungjawab suatu rumah tangga Kristiani yang kudus, harmonis, dan bahagia serta memuliakan dan melayani Tuhan. (Micha N.L. Tobing dalam facebook.com)
Jadi makna pernikahan yaitu meninggalkan keluarga dan kemudian menggantungkan diri kepada pasangannya. Namun harus diperhatikan bahwa Alkitab tidak mengajar seseorang yang telah menikah membuang keluarganya. Kata meninggalkan bermakna penyerahan dimana keluarga menyerahkan anaknya untuk menyatu dengan pasangannya dan mengurus kehidupannya sendiri tanpa campur tangan atau intervensi keluarga. Keluarga (ayah,ibu, dan suadara) dalam hal ini hanya bertindak sebagai pengamat dan penasehat yang bertindak jika di minta. Banyak pasangan yang baru menikah justru bermasalah ketika orang tua tidak memahami fungsinya dalam pernikahan anak-anak mereka dengan sikap intervensi. Tetapi ada demikian banyak pernikahan yang demikian memilukan hati orang tua karena mereka benar-benar membuang keluarga mereka. Kebenaran yang utama adalah Firman Tuhan. Maka dengan mempelajari Alkitab kita akan menemukan prinsip-prinsip yang sejati dalam pernikahan yang berbahagia.

Pernikahan adalah Kehendak Allah. Oleh karena itu seseorang yang akan menikah perlu mendapat bimbingan agar memahami kehendak Allah tentang pernikahan. Allah telah menciptakan pernikahan sedari semula dan akan tetap ada kelak selamnya. Firman Tuhan menyatakan: “TUHAN Allah berfirman: tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.” (Kejadian 2:18) Allah yang memikirkan pernikahan sejak semula. Dialah kreator pernikahan.

Menurut Alkitab, pernikahan ditahbiskan dan dibentuk oleh Tuhan sebagai persatuan antara seorang pria dan seorang wanita. Orang Kristen menggunakan perintah itu dari Allah untuk menentukan pandangan mereka tentang pernikahan Kristen. Pernikahan Kristen merupakan sambungan dari Yesus Kristus kepada Gereja. Hal ini sesuai dengan pernyataan Paulus dari Tarsus yang, di Efesus, mencatat sambungan dari sudut pandang Perjanjian Lama bahwa pernikahan adalah paralel antara hubungan manusia dan Allah. Perkawinan Kristen adalah karunia dari Tuhan dan sesuatu yang harus dihargai dan didukung.

Bertolak dari pemahaman tentang pernikahan sebagaimana yang dimaksud di atas, maka anggota gereja yang akan menikah perlu dibimbing dalam bimbingan pranikah. Dalam bimbingan pranikah, seorang pendeta menggunakan firman Tuhan sebagai dasar bimbingan pranikah. Ayat-ayat firman Tuhan yang dipakai dalam bimbingan pranikah berfungsi sebagai dasar yang baik bagi pernikahan dan sebagai landasan tradisional sehingga nilai perkawinan dapat ditempatkan pada tingkat yang sangat penting. Dikatakan sangat penting karena pernikahan adalah lembaga yang diteguhkan Allah sebagai sebuah hubungan permanen antara dua orang manusia yang berlainan jenis, seperti yang dikatakan dalam Alkitab, “sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging (Kej. 2:24). Artinya sejak semula rencana Allah tentang pernikahan adalah satu orang laki-laki dan satu orang perempuan yang menjadi satu daging, yaitu bersatu dalam jasmani dan rohani (B. Surbakti, 2008:45)

Menurut Jotje Hanri Karuh, pernikahan dalam beberapa definisi yakni. Pernikahan adalah kesempatan untuk belajar tentang cinta. Menurut definisi ini cinta adalah karunia Tuhan dalam diri manusia dan mesti digunakan secara baik. Tempat terindah belajar cinta adalah dalam pernikahan. Selain itu menurut Jotje, pernikahan adalah perjalanan yang harus dilalui seseorang dengan berbagai pilihan dan konsekuensi. Menurut definisi ini, orang yang menikah merupakan orang dewasa yang memiliki kemampuan memilih dan siap dengan konsekswnsinya. Pernikahan juga diartikan peluang komunikasi batiniah daripada komunikasi lahiriah. Dalam hal ini pernikahan lebih banyak dipengaruhi oleh masalah masa lampau yang tak terselesaikan dan butuh kesadaran akan hal itu.

Pernikahan juga didefinisikan sebagai panggilan untuk melayani. Dua insane yang sepakat membentuk keluarga bersedia untuk saling melayani satu dengan lainnya dalam kelebihan dan kekurangan. Pernikahan juga diartikan sebagai panggilan untuk bersahabat.Dua insane yang akan dipersatukan dalam pernikahan akan mewujudkan persahabatan dalam jalinan pernikahan. Kekayaan pengertian akan definisi pernikahan berlanjut dalam beberapa definisi terakhir yaitu pernikahan adalah panggilan untuk menderita, pernikahan adalah panggilan untuk saling berbagi dan memberi, pernikahan adalah proses pemurnian;suatu kesempatan untuk dibentuk Allah menjadi pribadi yang dikehendakiNya (Jotje Hanri Karuh dlm http://blessedday4us.wordpress.com)

Jadi, pernikahan mempunyai makna yang luas. Ia tidak sekedar persatuan tubuh antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan. Pernikahan adalah sebuah persekutuan hidup yang utuh, yang tak terpisahkan antara dua pribadi, laki-laki dan perempuan, yang dipersatukan menjadi suami-istri. Pernikahan ada dalam rencana Tuhan dan Tuhan melihat persekutuan hidup tersebut sebagai sesuatu yang indah dan baik. Oleh sebab itu, sangat penting bagi setiap pasangan yang akan menikah memahami dasar teologis pernikahan. Hal ini perlu dimengerti, dihayati, dan dilakukan agar hidup pernikahan yang akan dijalani adalah sebuah pernikahan yang kokoh (Ibid)

Semoga bermanfaat
Read More

Psikologi kerja: kinerja guru

Psikologi kerja: kinerja guru
Seorang yang bekerja dituntut menghasilkan kinerja yang baik. Demikian juga dalam dunia pendidikan. Para pendidik dituntut menunjukkan kinerja secara baik. Kinerja dalamkonteks guru tentu berbeda dengan kinerja seorang karyawan perusahan. Kinerja guru meliputi kinerja dalam aspek tridarma perguruan tinggi, yaitu seorang guru atau pendidik harus menunjukkan kinerja yang baik dalam mengajar. Untuk itu seorang guru perlu mempersiapkan silabus, Rencana Pelajaran Semester (RPS) atau RPP dengan mengacu pada K2013 dan KKNI yang diberlakukan di Indonesia. Selain itu guru mesti mempersiapkan strategi dan metode mengajar yang baik sehingga mengajar dapat menghasilkan kinerja unggul sebab tanpa aspek-aspek ini kinerja seorang pendidik tidak akan berhasil secara baik. Selain mempersiapkan silabus dan RPP atau RPS, seorang pendidik harus mempersiapkan materi ajar yang sesuai. Untuk mempersiapkan materi ajar dan menyampaikan secara baik kepada peserta didik, seorang pendidik harus punya strategi dan metode yang memungkinkannya mengajar secara sukses. Metode adalah cara yang dipakai untuk menyampaikan materi pelajaran kepada peserta didik. Hal yang perlu mendapat perhatian yaitu proses dan penggunaan media serta evaluasi proses pembelajaran. Aspek-aspek inilah yang ada dalam instruksi terstruktur yang kita kenal dengan istilah mengajar.

Kinerja pendidik (guru dan dosen) dewasa ini merupakan kenyataan yang harus diakui dalam dunia pendidikan. Sebab kinerja profesi guru yang ada tidak kaya akan sifat-sifat yang positif, konstruktif, dan kreatif. Corak kinerja guru dan dosen menopang kesuksesan proses pengajaran maupun pendidikan. Kebutuhan akan guru-guru yang penuh dedikasi, kokoh, dan terpercaya oleh masyarakat dalam dunia pendidikan merupakan sesuatu yang penting dan mendesak demi peningkatan mutu pendidikan. Pendidik (Guru dan Dosen) selalu berada dalam barisan dinamis, artinya guru terus berjuang maju. (Chris Marantika, tt, 7). Dalam arah gerak maju, guru dan dosen berarti berjiwa “Voluntarisme” (sukarela) dan bukan memfokuskan perhatiannya secara “materialisme”. Guru dan dosen selalu bergerak kesasaran yang pasti dan bukan berputar-putar pada lingkaran setan.(Ibid:9)

Kinerja seorang pendidik Kristen adalah “Kinerja seorang pelayan.” (Gottfried Oseh-Mensah, 2001: 8).. Kinerja ini sedemikian penting untuk masa kini dan yang akan datang. Kinerja inilah yang telah digunakan dan dipegang sebagai prinsip oleh para pelaksana pelayanan kependidikan sebagaimana yang disuarakan dalam Alkitab.

Semoga bermanfaat
Read More

Dasar teologis kerukunan hidup keluarga

Dasar teologis kerukunan hidup keluarga
Seorang teologi Kristen Indonesia yaitu A.A. Yewango dalam bukunya berjudul Tidak Ada Penumpang Gelap dalamkereta Indonesia bab 16 Gereja dan Kerukunan Umat Beragama  menyatakan: Gereja (boleh juga dibaca orang Kristen) berada dalam dunia. Ini sesuatu yang “given”. Jadi, bagaimanapun gereja tidak dapat dan tidak boleh mengisolasikan dirinya dari lingkungan di mana ia berada.”  Dalam keberadaan seperti itu gereja bergumul dengan kerukunan baik kedalam (kerukunan warga) maupun keluar (antar denominasi maupun antar agama). Kerukunana adalah suasana keharmonisan yang terjadi dalam keluarga. Sebagai keluarga yang anggota keluarganya mengaku percaya kepada Yesus Kristus maka setiap anggota dalam keluarga mestilah hidup dalam kerukunan
Rukun berarti ada keharmonisan. Keharmonisan berarti: selaras, serasi. Harmoni berarti keselarasan. Keharmonisan (keadaan) selaras, serasi; keselarasan, keserasian. Misalnya, keharmonisan dalam keluarga perlu di jaga.Dalam bahasa Inggris disebut harmony artinya laras, persetujuan, persesuaian. Jadi Keluarga  Kristen Yang Harmonis berarti  keluarga inti (suami, isteri,  dan anak) tercipta keselarasan, keserasian  dan kesesuaian dalam kehidupannya sehari-hari sesuai dengan terang Firman Tuhan (Kis 1: 8). Alkitab mengajarkan agar kelurag Kristen tetap harmonis. Keluarga yang harmonis yaitu keluarga yang: (1). Menciptakan komunikasi yang baik dalam keluarga sesuai dengan terang Firman Tuhan (bnd. Ul 6: 4 – 9, Mzm 119 : 105); keluarga yang memahami dan melakukan tugas dan tanggungjawab masing-masing (suami, isteri, anak). (Kol 3: 18 – 25, Ef 5: 22 – 33); Keluarga yang melaksanakan doa pagi, siang dan malam atau keluarga yang tetap memelihara kebiasaan berdoa (bnd. 1 Tes 5: 17, Mat 26: 41, 1 Tim 2: 1 – 4, Yak 5: 16 – 18).; Kelurag yang bekerja keras dan tekun, bukan keluarga  malas (bnd. Ams 6: 6, 31: 10 – 31); keluarga yang jujur dan terbuka (Mika 7: 2, Mat 22: 16, Ams 11: 3, 14: 2); keluarga yang mempergunakan waktu se-efektif dan se-efisien mungkin (bhs Yunani: kata kairos dan kronos). (Pkh 3, Ef 5: 16 – 17, Kol 4:   5 – 6); keluarga Kristen yang tidak egois/hukum sebab akibat. (bnd. Mat 7: 12); Keluarga yang rajin bersekutu dan beribadah (Kis 2: 46 – 47); keluarga yang takut akan Tuhan (bnd. Ams 1: 7, Mzm 33: 18, 112: 1); keluarga menjaga lidah masing-masing (bnd. Yak 3: 1 – 10); keluarga yang hiduplah kudus, dosa seksual (bnd. Kej 39: 10, 2 Sam 11, 1 Kor 3:     c 16 –   17, Gal 5: 19); keluarga yang dapat mengelola uang dengan baik dan bijaksana ( 1 Tim 6: 10, Mat 26: 14 – 16, Kis 5: 1 – 11).

Read More

Psikologi Keluarga: kerukunan hidup keluarga

Psikologi Keluarga: kerukunan hidup keluarga
Apa itu kerukunan hidup keluarga. Kerukunan artinya adanya suasana persaudaraan dan kebersamaan antar semua orang walaupun mereka berbeda secara suku, agama, ras, dan golongan. Kerukunan juga bisa bermakna suatu proses untuk menjadi rukun karena sebelumnya ada ketidakkerukunan serta kemampuan dan kemauan untuk hidup berdampingan dan bersama dengan damai serta tenteram. (berhubungan dengan Pancasila sila 1 yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa (www.bimbingan.org)

Seorang teolog Indonesia yaitu A.A. Yewangoe menyatakan bahwa kerukunan hidup di Indonesia dipengaruhi oleh kemajemukan, maka sangat penting kehidupan dalam kerukunan. Dengan kata lain, untuk mencegah agar orang tidak terjebak dalam konflik-konflik maka di Indonesia dicanangkan tri kerukunan yaitu (1) kerukunan antar umat bergama, (2) kerukunan inter umat beragama, dan (3) kerukunan antara umat beragama dengan pemerintah. (A.A. Yewangoe, 2006:28). Selanjutnya Yewangoe menyatakan kerukunan dalam pengertian keadaan bukan tanpa konflik, sebab konflik tidak selamanya buruk. Oleh karena itu kerukunan adalah suatu keadaan autentik dan dinamis. Autentik artinya kerukunan itu sungguh-sungguh keluar dari hati yang tulus dan murni. Dinamis artinya kerukunan dimana orang hidup tidak sekedar hidup berdampingan (ko-eksisten) secara damai. Kerukunan yang dinamis berarti kerukunan di mana di dalamnya kelompok kelompok yang berbeda secara pro aktif, dinamis serta kreatif terlibat dalam interaksi yang intens dan terus menerus untuk mencapai kebenaran yang lebih tinggi, untuk merumuskan kesepakatan-kesepakatan bersama yang lebih berkualitas (A.A. Yewangoe, 2006:28)

Di Indonesia kerukunan keluarga menjadi amat penting. Namun tidak mudah mewujudkan kerukunan tersebut. Oleh karena itu maka kerukunan itu menjadi cita-cita - harapan yang diperjuangkan (bersama). Kita mengenal ada kerukunan dalam konteks berbangsa/bernagara, budaya/adat-istiadat, beragama, berbahasa - kerukunan menjadi cita-cita – harapan yang harus diperjuangkan bersama. Dalam konteks keluarga, anggota keluarga menyadari keberadaanya dalam perbedaan yang tidak dapat dihindari. Oleh karena itu maka kerukunan merupakan sesuatu (keadaaan) yang ‘sungguh’ harus diperjuangkan (bersama) dalam keluarga. Kerukunan itu penting untuk diusahakan, maka pemahaman akan kerukunan itu sendiri menjadi penting untuk dibahas ataupun juga ditanamkan dalam pribadi setiap induvidu.

Keluarga yang rukun akan menciptakan lingkungan yang rukun pula. Kerukunan dalam arti keharmonisan. Secara umum kerukunan dapat diartikan sebagai suatu keadaan dimana tercipta suatu keseimbangan sosial dalam masyarakat. Kerukunan ini juga bisa diartikan sebagai keadaan atau situasi bebas konflik. Bila ditinjau lebih jauh terutama bila dilihat dari kata dasarnya, rukun, maka kerukunan bukan hanya sebagai suatu situasi atau kondisi semata tetapi lebih dari itu kerukunan mencerminkan suatu relasi yang intim antar individu ataupun kelompok dalam suatu tatanan kehidupan bermasyarakat atau beragama. Akhirnya hal yang lebih penting yakni kerukunan vertical dan horizontal. Kita simpulkan kerukunan keluarga dalam uraian ini yakni kerukunan secara teologis dan sosiologis-ekonomis. Secara teologis, keluarga rukun karena tingkat relasi keluarga dengan Tuhan, dari sisi sosial ekonomi ada pendapatan penghasilan, usaha-usaha yang menopang penghasilan keluarga (keuangan keluarga), aspek ini dapat dilakukan melalui kerja di kantor, menciptakan peluang kerja melalui usaha online, membuka program reseller bisnis online, penaman modal melalui kegiatan-kegiatan yang berbadan hukum seperti D4F atau Dream for Freedom dan sejenisnya

Selamat menjalani kerukunan

Read More

Psikologi pendidikan: jenis-jenis temperamen

Psikologi pendidikan: jenis-jenis temperamen
Setiap manusia, khususnya peserta didik memiliki temperamen yang berbeda-beda. Itulah sebabnya pendidik Kristen berusaha memahami jenis-jenis tempramen, dan berusaha mengenal peserta didik dalam jenis tempramen apa. Berikut penjelasan jenis tempramen.

1. Sanguin

Kata sanguin dalam bahasa inggris “sanguine” yang artinya selalu riang dan penuh harapan, optimist berwarna merah yang menandakan sehat (Peter Salim, 1991: 1707). Orang yang memiliki temperamen sanguin dalam tubuhnya lebih banyak mengandung cairan darah. Untuk itu, jika salah satu cairan ada dalam tubuh manusia melebihi proporsi yang seharusnya, maka akan mengakibatkan adanya sifat-sifat kejiwaan yang khas. Sifat-sifat tersebut dapat mendasari tingkahlaku setiap individu. Sanguin memiliki kelebihan-kelebihan dan juga kekurangan yang sangat berbeda dengan temperamen lain.


Kelebihan-kelebihan sanguin:

Orang yang memiliki temperamen sanguin sangat bersemangat dalam hidupnya, selalu tampak ceria, hangat, bersahabat dan sangat menikmati hidup. Selain itu sanguin dapat menerima segala keadaan dan kesan-kesan yang dilihatnya dengan mudah mempengaruhi hatinya. Sanguin mempunyai kecenderungan untuk menghangatkan setiap orang dengan kelancaran percakapannya yang riang gembira. Ole Hallesby mengatakan, “sifat seorang sanguin yang naif, spontan dan periang itu membuat banyak orang senang kepadanya.” (Tim LaHaye, Metanoia, 1999:12). Ia benar-benar ikut merasakan sukacita dan kesusahan orang-orang yang dihadapinya dan dapat membuat orang yang dihadapinya itu merasa dirinya penting, seakan-akan seorang sahabat yang istimewa. Orang yang memiliki tipe sanguin tidak pernah kehabisan kata-kata, jarang menunggu orang lain berbicara, tetapi biasanya dialah yang mendahului berbicara ia dapat membawakan cerita dengan menarik karena sifatnya yang hangat dan penuh emosi, seakan-akan menunjukan bahwa ia sedang mengalami apa yang diceritakannya itu. Caranya berbicara yang ramai dengan suara yang keras dan ramah tamah itu membuat dia lebih mantap dari keadaan dirinya yang sesungguhnya. Tetapi semangat dan perilakunya yang menyenangkan itu dapat membawa dia melewati liku-liku kehidupan yang berat. Sikapnya yang tulus dan terbuka membuat orang tidak melawan dan menolak dia.

Kelemahan-kelemahan sanguin:

Orang sanguin cenderung berkemauan lemah dan tidak memiliki disiplin sehingga akhirnya menyebabkan mereka lebih mudah berdusta, tidak jujur dan tidak dapat diandalkan. Tanpa disiplin pribadi tidak ada keberhasilan (Tim LaHaye, Metanoia, 1999:56). Karena melalui disiplin dapat mengantar seseorang untuk mencapai kesuksesan. Sanguin jarang membuat rencana ke depan, namun biasanya begitu tiba tugas mereka langsung bekerja. Ketika bekerja mereka sering merasa takut mengalami kegagalan secara pribadi, penolakan atau dicela. Dari pada menghadapi celaan, lebih baik mereka menyembunyikan kekeliruan. Pembawaan sanguin yang paling curang, membuatnya benar-benar melumpuhkan potensi rohaninya. Ia mudah mempengaruhi orang lain dengan pikirannnya dan membengkokkan kebenaran, itulah sebabnya ia sering kali menginjak-injak hak orang lain dan memanfaatkan orang lain.
Salah satu tokoh dalam Alkitab yang memiliki temperamen sanguin yaitu rasul Petrus. (Tim Lahaye, 1971:35) Pada saat Tuhan datang menemui para murid-Nya dengan berjalan di atas permukaan air, Petrus berseru dan menjawab Dia, Tuhan, apabila engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan diatas air. Maka Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Tuhan Yesus” (Mat.14:28-29). Kisah ini melukiskan ciri temperamen sanguin yang ada pada pribadi Petrus. Selain itu Petrus memperlihatkan wataknya yang selalu berbicara ketika ia bersama dengan Yakobus dan Yohanes dan diajak oleh Yesus untuk mendaki sebuah gunung (Mat. 17:1-13), kata Petrus kepada Yesus, Tuhan betapa bahagianya kami berada di tempat ini, jika Engkau mau biarlah kudirikan disini tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia.” Sanguin tidak mengetahui apa yang sepatutnya di perbuatnya, ia berbicara. Ucapannya biasanya tidak cocok dengan waktunya. Demikian halnya dengan Petrus, tidak seorangpun mengajukan pertanyaan kepadanya tetapi ia merasa harus menjawab mereka. Kemudian sifat spontan dari temperamen Petrus terlukis jelas pada kejadian di taman Getsemani (Yoh.18:10), ketika prajurit-¬prajurit disuruh oleh imam-imam kepala dan orang Farisi untuk menangkap Yesus, maka Simon Petrus yang membawa pedang, menghunus pedang itu, menetakkannya kepada hamba imam besar dan memutuskan telinga kanannya.” Ini menandakan bahwa orang-orang yang berteperamen sanguin adalah aktivis, bukan ahli pikir, jika mengalami tekanan mereka akan melakukan sesuatu.

2. Kolerik

Kolerik artinya cairan empedu kuning, (choler) artinya aktif yang kuat. (Peter Salim,1991: 327). Yang bertemperamen ini keras, penuh semangat, bertindak cepat, aktif, praktis dan berkemauan keras. Hal ini dipengaruhi oleh cairan yang ada di dalam tubuhnya.
Kelebihan-kelebihan kolerik:

Orang yang memiliki temperamen kolerik adalah seorang yang berkemauan keras dalam mencapai sesuatu, dan cenderung bersikap tegas serta berpendirian dalam mengambil keputusan. Koleris adalah tipe orang menyukai aktivitas, bagi dia hidup adalah aktivitas (Tim LaHaye, 1992: 37). Ia tidak perlu dirangsang oleh lingkungan justru ia yang merangsang lingkungan melalui ide-idenya yang tidak pernah berakhir. Kolerik tidak mudah menyerah terhadap tekanan orang lain, justru melalui hal itu semakin mendorongnya untuk terus maju. Bersikap tegas dalam menghadapi persoalan¬persoalan dan seringkali berani melawan ketidakadilan sosial terhadap keadaan yang tidak benar. Kolerik dapat mengambil keputusan yang mantap dan seringkali ia berhasil dimana orang lain mengalami kegagalan. Hal ini bukan karena rencana-rencananya lebih baik daripada orang lain, tetapi karena ia terus maju meskipun orang lain sudah putus asa dan berhenti. Bila pepatah “menjadi pemimpin karena bakat bukan karena latihan” maka koleris adalah orang yang berbakat memimpin. Kolerik adalah seorang yang disiplin dan memiliki tekat bulat, ia sangat percaya pada kemampuan dirinya sendiri dan sangat agresif. Segala sesuatu bagi dia dipertimbangkan dengan melihat manfaat yang ada di dalamnya.

Kelemahan-kelemahan kolerik:

Kolerik adalah sifat orang yang suka mengatur, suka menunjuk atau memerintah serta tidak segan-segan memperalat orang lain untuk mencapai maksud dan tujuannya. Kolerik suka memberikan komentar yang lebih tajam dan menusuk hati dan menyinggung perasaan sehingga dapat melemahkan orang dan meremukkan orang yang kurang memiliki semangat juang. Seorang kolerik yang berbahagia adalah kolerik yang menemukan bahwa lidah dapat menjadi sebuah senjata penghancur yang ganas atau sarana kesembuhan.( Tim LaHaye,60). Artinya jika orang yang bertemperamen koleris mengenal pentingnya pengucapan kata-kata yang menguatkan dan menghibur, maka ia akan berusaha mengendalikan perkataannya. Kecenderungan kolerik tidak peka terhadap orang lain, tidak memperhatikan perasaan orang lain dan juga tidak dapat menunjukkan kasih secara wajar kepada orang lain.

Salah satu tokoh dalam Alkitab yang bertemperamen kolerik adalah Paulus (Tim Lahaye, 80). Sifat yang khas dari temperamen kolerik yang nampak pada rasul Paulus adalah kecakapannya memimpin. Hal itu dibuktikan dalam kegiatan-kegiatannya di majelis Yerusalem, dan juga terlihat pada masa perjalanannya yang pertama. Barnabas dan Paulus termasuk team penginjilan yang pertama (Kis. 3:10), kepemimpinan itu nyata dalam beberapa kesempatan yang terjadi ketika Paulus dan Silas menghadapi seorang hamba perempuan yang dirasuk “roh tenung”. Ketika Paulus tidak tahan lagi akan gangguan itu, ia berpaling dan berkata kepada roh itu, demi nama Yesus Kristus aku menyuruh engkau keluar dari perempuan ini (Kis.16:18). Kepemimpinan yang giat itu jelas digerakkan oleh Roh kudus, dan khas menjadi sifat dari pelayanan rasul Paulus. Selain itu orang¬-orang kolerik adalah pemberani sejak lahir, mereka selalu merupakan orang-orang pertama dalam setiap lingkungan masyarakat yang mencetuskan gerakan-gerakan pembaruan. Jika mereka melihat ketidakadilan sosial, orang kolerik bukan saja tersentuh hati, melainkan juga segera tergerak untuk bertindak.

Dalam Galatia 2 memberikan gambaran tentang sikap pemberani dari rasul Paulus. Ketika Kefas orang Yahudi, hidup secara kafir dan bukan secara Yahudi, sehingga ketika Paulus melihat ketidakadilan ini hatinya digerakkan untuk membetulkan itu (Gal. 2:14). Paulus juga orang paling optimis di dunia, tanpa mengandalkan ketergantungan kepada sumber-sumber manusiawi. Paulus menjelajahi daerah-daerah yang belum dikenalnya dengan satu kepastian bahwa roh Tuhanlah yang mengirim dia untuk berbuat demikian. Di dalam II Kor.11:23-29, memberikan laporan mengenai beberapa penderitaan yang dialaminya sebagai hamba Yesus Kristus. Tetapi walaupun demikian, namun orang-orang yang optimis selalu mempertahankan tujuan-tujuannya. Jadi rahasia motivasi rasul Paulus adalah berasal dari Roh Kudus.

3. Phlegmatic

Menurut Hippocrates, cairan-cairan tubuh yang menghasilkan temperamen-temperamen yang tenang, dingin, lamban, santai, dan stabil disebut flip phlegmatic. Tim LaHaye, 18) Bagi phlegmatic hidup adalah pengalaman yang membahagiakan. Orang yang memiliki temperamen phlegmatic di dalam tubuhnya mengandung cairan phlegm (lendir).
Kelebihan-kelebihan phlegmatic:

Orang phlegmatis adalah orang yang sangat tenang dan santai sehingga nampaknya ia tidak pernah merasa terganggu, bagaimana pun keadaan di sekelilingnya. Bagi dia hidup adalah sebuah pengalaman yang menggembirakan, menyenangkan namun tanpa gairah dimana ia sedapat mungkin menghindari keterlibatan. Di balik temperamennya yang dingin, dan sifatnya yang pemalu itu, terdapat beberapa temperamen yang tergabung menjadi satu. Ia mempunyai perasaan yang jauh lebih dalam dari pada apa yang nampak pada wajahnya dan memiliki kemampuan untuk menghargai karya seni yang tinggi dan hal-hal yang baik dalam kehidupan. Orang phlegmatis tidak akan kekurangan teman karena ia mempunyai orang-orang dan mempunyai rasa humor yang sinis. Ia memiliki ingatan yang baik, kuat dan seringkali ia pandai sekali dalam menirukan sesuatu. Orang phlegmatis biasanya baik hati dan penuh perhatian, tetapi jarang sekali ia mengutarakan perasaannya yang sesungguhnya. Tetapi apabila sekali ia didorong untuk bertindak, akan terbukti bahwa ia orang yang paling efisien dan memiliki kemampuan yang hebat. Ia sendiri tidak ambisi untuk menjadi seorang pemimpin, tetapi apabila ia diberi tugas sebagai pemimpin, ia akan membuktikan diri sebagai seorang pemimpin yang mampu dan bertanggung jawab. Ia dapat menimbulkan suasana damai dan mempunyai sifat pembawaan suka memainkan orang. Kebutuhan yang terutama ialah: kasih, kebaikan, kelemah lembutan, penguasaan diri dan iman (www.mail-arcihive. Com)

Kelemahan-kelemahan plegmatis:

Orang phlegmatis mempunyai kelemahan yaitu tidak berani. Sekalipun ia mempunyai bakat atau talenta tapi sulit bagi dia untuk menyatakannya, cenderung diam, kalem dan ia memiliki kemampuan yang unik dalam melihat sesuatu pada orang lain. Merasa jengkel dengan semangat yang berkobar-kobar dari orang sanguin yang tidak pernah tenang, ia benci dengan kemurungan orang-orang melancolis, ia senang mematahkan rencana-rencana dan ambisi yang selangit dari orang kolerik.
Tokoh dalam Alkitab yang bertemperamen phlegmatis adalah Abraham. Sifat-sifat yang mengagungkan dari fhlegmatis yaitu sifat cinta damai, cenderung memperlihatkan ketentraman dan ketenangan. Sifat ini terlihat dalam pribadi Abraham ketika gembala-gembala ternaknya dan gembala-gembala ternak Lot mulai saling bertengkar. Abraham mengusulkan suatu jalan penyelesaian dengan berkata kepada Lot: “Janganlah kiranya ada perkelahian antara aku dan engkau, antara gembalaku dan gembalamu, sebab kita ini adalah kerabat”(Kej. 8-9). Perkataan ini menandakan sifat Abraham yang mencintai kedamaian. Selain dari itu sifat lain dari plegmatis yang nampak pada pribadi Abraham yaitu perasaan takut. Sifat ini tampak ketika terjadi kelaparan di tempat tinggalnya, maka mereka pergi ke Mesir. Karena mengetahui Raja Firaun mencari perempuan untuk menjadi permaisuri, maka Abraham membujuk isterinya, katakanlah bahwa engkau adikku, supaya akan diperlakukan mereka dengan baik karena engkau dan aku dibiarkan hidup (Kej.12:10-20). Dari peristiwa ini Abraham merasa khawatir akan kebutuhan dan keamanan diri, Abraham tidak percaya pada perlindungan dan kuasa Tuhan.

4. Melankolis

Hippocrates seorang bapak kedokteran dari Yunani memberi nama dari cairan empedu hitam yang ada di dalam tubuh manusia yaitu melankolis. Yang artinya murung, “Yang sempurna” (Peter Salim, 1157). Tipe ini sangat berbeda dengan temperamen lain oleh karena melancholy memiliki sifat analitis, rela berkorban, berbakat, perfeksionis dan memiliki emosi yang sangat sensitif. helebihan-kelebihan melankolis:
Orang melankolis adalah pendiam, pemikir. Walaupun mereka tidak butuh banyak bicara seperti halnya orang yang bertemperamen sanguin, tapi orang Melankolis ini memiliki banyak akal dan suka mangucapkan kata-kata yang tepat di saat yang tepat. Melankolis berusaha mengejar kesempurnaan dalam segala yang penting bagi mereka kerjakan sesuatu dengan sungguh-sungguh, dan mereka membutuhkan ruang dan ketenangan dimana mereka dapat berpikir sebelum mereka berbicara, menulis atau bertindak.
Dari keempat temperamen tersebut, melankolis merupakan temperamen yang paling kaya, ia memiliki rasa seni yang tinggi, kemampuan analisis yang kuat perfeksionis, sensitive, berbakat, dan rela berkorban. Perasaan yang sangat berpengaruh dari seorang melankolis, ia adalah seorang yang introvert, tetapi apabila ia sedang berada dalam puncak sukacitanya, ia bisa menjadi ekstrovert. R.C.H. Lenski memberikan komentar mengenai sukacita yang indah: sukacita adalah salah satu kebajikan orang Kristen yang utama. Sukacita pantas mendapat tempat setelah kasih, pesimis adalah kesalahan yang buruk, ini bukan sukacita yang bodoh seperti yang diterima oleh dunia; ini adalah sukacita yang bertahan lama yang meluap-luap dari kasih karunia Allah, dari berkat-berkat yang adalah milik kita, yang tidak akan meredup oleh penganiayaan.( Tim lahaye ,131). Melankolik adalah orang yang paling dapat dipercaya, karena kecenderungannya untuk mencapai yang sempurna tidak membiarkan dirinya mengabaikan pekerjaannya atau nembiarkan orang lain kecewa bila mereka bergantung kepadanya. Ia biasanya menemukan nilai hidup paling berarti dalam pengorbanan diri. Sekan-akan mempunyai keinginan untuk membuat dirinya sendiri menderita, dan sering memilih pekerjaan yang sulit dan menuntut banyak pengorbanan diri, cenderung bersikap sangat teliti dan tekun dalam mencapai tujuannya dan besar kemungkinan ia akan menyelesaikan dengan sangat baik.

Kelemahan-kelemahan dari melankolis:

Temperamen melankolis sifat-sifatnya perfeksionis dan hati yang mengagumkan seringkali membawa sifat negatif, pesimis dan roh kritik yang tidak menguntungkan. Melankolis tidak senang terhadap dirinya sendiri, ia menyerang dirinya sendiri dan terus-menerus melakukan intropeksi sehingga ia tidak lagi memiliki rasa percaya diri dan harga diri. Cenderung membandingkan diri sendiri dengan orang lain, dalam hal penampilan, talenta dan intelek, akibatnya merasa dirinya tidak baik. Orang melankolis sulit untuk percaya karena pada dasarnya ia jarang menghargai dirinya sendiri.
Pembawaan yang berpusat dalam diri sendiri serta sifatnya yang sensitif, menjadikan seorang melankolis mudah tersinggung. Ia tidak toleran dan tidak sabar terhadap orang lain yang berbeda pendapat dengan dia. Akibatnya sulit bagi dia untuk bekerjasama dengan team dan seringkali sendirian dalam dunia bisnis.
Salah satu tokoh Alkitab yang bertemperamen melankolik adalah Musa(Tim Lahaye, 126-127). Orang-orang melankolik memiliki kemampuan dalam hal-hal dramatis dan pada kesempatan tertentu mencapai titik puncaknya. Hal ini terlihat dalam pribadi Musa pada saat dia menghadap Firaun raja Mesir, untuk menyampaikan peringatan Allah (Kel. 7,8). Selain itu salah satu ciri khas dari temperamen melankolis yaitu keinginannya untuk rela berkorban, cenderung untuk mengabdikan diri pada pekerjaan yang menuntut banyak pengorbanan diri. Setelah dewasa Musa menolak disebut anak puteri Firaun, ia lebih suka menderita sengsara dengan umat Allah daripada untuk sementara menikmati kesenangan dari dosa (Ibr. 11:24-27). Jadi bagi orang melankolik mudah mengatasi segala tawaran dunia berupa hal-hal palsu dan mereka mengevaluasi hal-hal yang kekal.


Orang melankolis memiliki bakat asli yang hebat, tapi bakat itu sering dilalaikan karena dipengaruhi sifat merendahkan yang berlebih-lebihan. Ketika Tuhan menampakkan diri kepada Musa di dalam semak belukar yang menyala, Tuhan mengutus Musa kepada Firaun untuk membawa umat Israel keluar dari Mesir (Kel.3:10). Pada saat itu musa membeberkan perasaan rendah dirinya dengan menjawab, “Siapakah aku ini, maka aku mengahadap Firaun dan membawa orang Israel keluar dari Mesir?” aku tidak punya bakat apapun. Perkataan ini menandakan kekhawatiran Musa akan kuasa Tuhan (Mat.28:18-20). Kekhawatiran adalah bagian dari perasaan rendah diri dari temperamen melankolis.
Selanjutnya sifat melankolis yang patut dihargai adalah kesetiaannya dan kepercayaanya. Hal ini terlihat jelas dalam pribadi Musa selama empat puluh tahun pelayanannya kepada Allah. Setiap kali ia mengalami kesulitan, Musa selalu memohon pimpinan Tuhan. Ketika bangsanya mengeluh karena lapar, musa berdoa dan Allah menjawab doa itu dengan menurunkan manna dari sorga (Ke1.16). ketika mereka kekurangan air, Musa memukul gunung batu dan Allah lalu memberikan kepada mereka air yang melimpah-limpah (KeL 17), ketika mereka mengharapkan supaya air laut merah menjadi kering, Musa memukul air itu dengan tongkat atas nama Allah, maka menyibakkan air laut yang bergelora itu (Ke1.14). Dari berbagai kesulitan-kesulitan yang dialami oleh Musa dalam memimpin bangsa Israel, ia tidak tawar hati tetapi Musa selalu setia dan percaya kepada Tuhan.
Jadi, setiap peserta didik memiliki keunikan masing-masing. Kata “keunikan” ini menggantikan kata “kelebihan dan kekurangan”. Setiap orang memiliki berbagai sifat dan karakter masing-masing. Kalaupun ada kemiripan, tapi setiap orang tidak pernah memiliki kesamaan yang total. Untuk itu, guru pendidikan agama kristen mampu menemukan keunikan dari setiap temperamen yang dimiliki oleh peserta didik, sehingga dapat mengarahkan peserta didik sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Karna seorang guru yang baik adalah guru yang tidak dikuasai dlan berada dibawah situasi.( Stephen Tong, 53) Artinya pendidik Kristen mampu menempatkan diri dalam setiap keadaan yang dialami oleh peserta didik, baik sebagai pengajar, pembimbing dan juga sebagai orang tua kedua dari peserta didik.

Semoga bermanfaat

Read More

Psikologi pendidikan: ciri-ciri temperamen

Psikologi pendidikan: ciri-ciri temperamen
Manusia adalah mahluk yang memiliki kepribadian dengan kepribadian tersebut melekat sifat-sifat yang terbentuk dalam dirinya. Sifat itu bisa merupakan topeng dari pada yang aslinya yaitu kepribadian. Itulah sebabnya perlu membangun pemahaman terhadap apa itu kepribadian dan apa saja tipe kepribadian tersebut. Tentu kita membutuhkan teori kepribadian yang dibuat oleh ahli-ahli psikologi kepribadian. Hal ini disebut dengan teori kepribadian. Teori kepribadian ada macam-macam. Namun dalam postingan ini kita membicarakan teori kepribadian sebagaimana yang disampaikan oleh Galenus. Galenus menggolongkan manusia menjadi empat tipe dengan ciri-cirinya masing¬masing:

1. Orang yang terlalu banyak sanguine (darah) di dalam tubuhnya memiliki sifat sanguine, dengan ciri-ciri:
- Ekspansi (terus terang, terbuka)
- Lincah
- Selalu riang
- Optimis
- Mudah tersenyum
- Tidak mudah putus asa
2. Orang yang terlalu banyak flegma (lendir) di dalam tubuhnya memiliki sifat flegmatis, dengan ciri:
- Plastic (mudah dibentuk)
- Tenang
- Dingin
- Sabar
- Tidak mudah terpengaruh
3. Orang terlalu banyak chole (empedu kuning) didalam tubuhnya memiliki sifat koleris, dengan ciri-ciri:
- Garang
- Lekas marah
- Mudah tersinggung
- Pendendam
- Serius
2. Orang yang terlalu banyak melanchole (empedu hitam) didalam tubunya memiliki sifat melancholia, dengan ciri-ciri:

- Kaku
- Muram
- Penakut
- Pesimis.( Agus Sujanto, 2008: 22)

Paparan tentang ciri-ciri tempramen seperti yang dikemukakan di atas, jelas menunjukkan bahwa setiap orang ketika dilahirkan, telah mempunyai ciri-ciri khusus, potensi, ketentuan-ketentuan, predisposisisi, bakat, bentuk yang akan mendasari kepribadian seseorang, ciri-ciri ini akan tampak dalam tingkah laku sehari-hari. Hal ini perlu mendapat perhatian pendidik, termasuk pendidik Kristen. Setiap pendidik Kristen perlu memahami ciri-ciri temperamen yang dimiliki oleh peserta didik. Pengenalan akan cirri-ciri tempramen membantu pendidik dalam mengenal anak dengan perkembangan psikologisnya. Dalam hal ini seorang pendidik Kristen adalah arsitek jiwa manusia (Stephen Tong, 2003:51). Guru merancang, mengarahkan peserta didik, agar dapat tumbuh dan berkembang sesuai dengan potensi, minat, dan bakatnya.

Dengan memahami teori kepribadian maka kita dapat mengenal kepribadian setiap orang dan juga kepribadian kita. Pemahaman ini akan sangat bermanfaat bagi kita dalam banyak hal seperti untuk keperluan mengajar ataupun memimpin.

Semoga bermanfaat

Read More

Psikologi pendidikan: pengertian tempramen

Psikologi pendidikan: pengertian tempramen
Pengertian Temperamen

Setiap orang memiliki tempramen yang berbeda-beda. Hal ini disebabkan karena pada hakikatnya manusia merupakan pribadi yang utuh, khas dan memiliki sifat-sifat yang berbeda-beda. Sifat-sifat ini merupakan ciri-ciri perilaku setiap orang atau perbuatan yang dipengaruhi oleh faktor-faktor dari dalam diri seseorang seperti pembawaan, minat, konstitusi tubuh dan cenderung bersifat atau stabil. Perbedaan dari setiap individu akan nampak mulai dari perbedaan fisik, pola berpikir dan cara merespons atau mempelajari hal baru. Selain itu Hippocrates, seorang bapak ilmu kedokteran dari Yunani yang hidup antara tahun 460-370 SM, mengemukakan teori empat tipe temperamen yang dimiliki oleh manusia. Keempat tipe temperamen ini disebabkan oleh empat macam cairan yang ada dalam tubuh setiap orang, yaitu darah, empedu kuning, empedu hitam, dan flegma (http://www.infogue.com).

Secara etimologi, temperamen berasal dari kata “Temper” yang berarti campuran (http://.indonusa.ac.id/). Berdasarkan arti kata ini, temperamen kemudian mendapat definisi secara konseptual. Definisi tempramen secara konseptual dapat diperhatikan dalam beberapa definisi ini. Tempramen adalah sifat seseorang yang disebabkan adanya campuran-campuran zat di dalam tubuh yang mempengaruhi tingkah laku setiap individu. Menurut Galenus temperamen adalah sifat-sifat kejiwaan yang ditentukan oleh campuran (komposisi) cairan-cairan dalam tubuh. Sedangkan Kretschmer mengartikan temperamen adalah bagian daripada kejiwaan yang agaknya dengan melalui darah secara kimiawi mempunyai korelasi dengan aspek jasmani. Ahli lain seperti Kohnstamm mendefinisikan temperamen adalah aku rohani yang bersangkutan dengan kostitusi jasmani dan dibawah sejak lahir (Sumadi Suryabrata, 51-52).

Teori temperamen pada mulanya dikemukakan oleh Hippocrates dan kemudian didukung oleh Galenus. Jadi, temperamen merupakan kombinasi pembawaan yang diwarisi melalui orangtua. Oleh karena itu maka setiap orang tidak sama tempramennya, tempramen ini merupakan warisan genetika orangtua.

Temperamen sebagaimana yang diuraikan di atas sangat mempengaruhi tingkah laku seseorang, karena melalui temperamen menjadikan seseorang ramah, pemarah, penyabar, periang, dan pemurung. Selanjutnya seorang yang ekstrovert tetap ekstrovert (Tim LaHaye, Metanoia, 1999:14). Seseorang dapat memperlunak sikapnya yang ekstrovert, namun ia akan senantiasa tetap ekstrovert. Demikian pula halnya, meskipun seorang introvert dapat bertindak lebih agresif, namun ia tidak akan pernah menjadi ekstrovert. Dalam konteks pendidikan, setiap pendidik mesti memperhatiak tempramen peserta didik sehingga menolong guru melaksanakan proses pembelajaran dengan baik dan berhasil mencapai tujuan pembelajaran. Definisi-definisi tentang temperamen tersebut di atas menegaskan bahwa tempramen adalah aspek kejiwaan yang dibawa sejak lahir dan dipengaruhi oleh konstitusi jasmani. Oleh karena tempramen merupakan warisan genetika maka beberapa ahli menyatakan bahwa temperamen tidak dapat diubah, yang bisa diubah adalah karakter atau sifat-sifat yang terbentuk dalam diri setiap orang.

Read More
[facebook]