Menjadi Seorang Penafsir Alkitab

Menjadi Seorang Penafsir Alkitab
Alkitab adalah firman Tuhan. Untuk memahami firman Tuhan dalam Alkitab maka seseorang harus menafsir Alkitab. Ada beberapa syarat yang harus diperhatikan seorang Kristen dalam upaya menafsir Alkitab. Berikut syarat Menafsir Alkitab.

1. Seorang yang sudah dilahirkan kembali. Sudah tentu seorang yang belum di lahir barukan oleh Roh Kudus, juga dapat membaca dan mengerti kata-kata Alkitab, tetapi ini tidak berarti ia sudah mengerti seperti maksud Roh Kudus yang menginspirasikan Alkitab tersebut. Tidak akan mungkin seorang yang berlumuran dan bergelimang dengan dosa setiap hari dapat mengerti Firman Tuhan. Bagi seorang yang belum dilahirkan kembali, hal-hal rohani adalah hal yang tidak masuk akal, bodoh dan sebagainya (I Kor 2:14). Sebelum dilahirkan kembali dan dijamahkan oleh Tuhan, mata rohani seseorang belum terbuka, menjadi tumpul, dan lamban untuk mengerti dan melihat kebenaran Allah (Luk. 24:25; 31). Pekerjaan Tuhan adalah pekerjaan rohani, oleh karena itu harus dikerjakan orang-orang yang rohani pula. Penafsir Alkitab adalah menafsirkan Firman Allah yang kudus jadi harus ditafsirkan oleh orang-orang kudus yang sudah disucikan oleh darah Kristus dan diperbaharui kembali oleh Roh Kudus (Yoh 3:3).
2. Seorang memiliki sikap dan motifasi yang benar. Jika seseorang membaca Alkitab dengan sikap dan motivasi yang tidak benar, sudah tentu ia tidak memperoleh berkat dari pada-Nya. Karena itu seorang penafsir Alkitab yang baik harus bersikap:


a. Rindu akan Firman Allah (Mzm. 119:97; 133). Jikalau anak-anak Allah tidak cinta Allah, pasti mereka tidak akan rindu Firman Allah. Kerinduannya akan Firman Allah, membuatnya makin haus dan lapar akan kebenaran (Mat. 5:5; Ams. 8:11-14).
b. Seperti murid (Yes. 50:4) sebagai seorang murid orang Kristen harus mengakui kekurangannya dan bersedia belajar. Seorang penafsir (murid) harus bersedia membayar harga sama seperti gurunya (Mat. 10:24-25), yaitu belajar.
c. Memiliki iman (Ibr. 11:6) seorang yang hendak mempelajari Alkitab harus percaya bahwa Alkitab yang dibaca dan akan direnungkan adalah Firman Tuhan, mutlak tidak salah dan tidak kurang walaupun di dalam Alkitab terdapat ayat-ayat yang sulit di mengerti, tetapi bagi seseorang yang beriman akan menerima dan percaya pada kebijaksanaan Allah, semuanya kesulitan tersebut tidak menjadi persoalan bagi dirinya.
c. Rajin dan teliti (Kis. 17:11). Seorang awam yang membaca Alkitab dengan rajin dan teliti mungkin akan lebih mengerti Firman Allah dari pada seorang pelajar atau lulusan teologi yang tidak memperhatikan Alkitab. Kerajinan dan ketelitian membaca Alkitab membangkitkan kesungguhan-kesungguhan dan kesukaan yang mengalir alami dari diri seseorang (Mzm. 1:22; Ezr. 7:10).
d. Bertekat dalam menjalankan dan membagi-bagikan Firman Tuhan (Mat. 7:24-25; Yak. 1:22). Tekad yang demikian adalah sangat penting karena tanpa tekad menjalankannya, Firman Tuhan hanya merupakan pengetahuan yang abstrak saja, akan menjadi teori yang tidak berfungsi. Tetapi sebaliknya Firman Tuhan akan menjadi hidup, berarti, bermanfaat dan berfungsi, apabila pembacanya bersedia menjalankannya.

3. Seorang yang memohon dan mengandalkan pencerahan dari Roh Kudus (Yoh. 16;13) Alkitab bukan suatu buku manusia biasa saja, melainkan Firman Allah yang diilhamkan oleh Allah melalui Roh Kudus. Jadi Roh Kudus adalah pengarang utama atau sesunguhnya dari Alkitab. Sebagaimana Roh Kudus bekerja dalam hati para penulis Alkitab demikian pula roh Kudus akan bekerja dan member pengertian kepada para pembaca dan penafsir Alkitab, dan bahkan Ia akan memampukan untuk menguraikan dan melakukannya. Jadi untuk mengerti Firman Tuhan seseorang penafsir harus terbuka dan rendah hati mau datang kepada Roh Kebenaran untuk memohon pertolongan dari pada-Nya.

4. Seorang Yang Mau Belajar rendah hati, taat dan menghormati Firman Tuhan (Mat. 11:25; Kis. 3:42-46). Upahnya adalah makin diperkaya oleh kebenaran Firman Tuhan, bertumbuh dalam iman, dan memancarkan kehidupan (Luk. 10:42).
5. Seorang yang memiliki hubungan pribadi dengan Tuhan (Mzm. 92:13-16). Hubungan yang baik dengan Tuhan akan membawah seseorang larut dalam hadirat Tuhan; membuat seseorang mengerti apa kehendak dan rencana Tuhan dalam hidupnya. Demikian pula pada saatnya menafsir dan memberitakan Fiman, Tuhan akan memimpin dan menutunnya untuk menemukan apa yang Tuhan nyatakan dan sampaikan kepada dirinya dan jemaat-Nya.

Salam
Read More

Contoh Olah Data dalam Bab IV dengan Kriteria Interpretasi Skor

Contoh Olah Data dalam Bab IV dengan Kriteria Interpretasi Skor
CONTOH OLAH DATA DENGAN KRITERIA INTERPRETASI SKOR
BAB IV
TEMUAN DATA DAN PEMBAHASAN

A. Temuan Data dan Analisis dengan Interpretasi Skor

Analisis Data dengan menggunakan Interpretasi Skor dapat dilkukan pada 13 item Angket yang disebar kepada 15 responden pada mahasiswa program studi Teologi STT .....dengan perhitungan sebagai berikut.
Perhitungan untuk data ( item No. 1)
Perhitungan Skor Penelitian ....
Jumlah skor untuk 11 menjawab 5 : 11 x 5 = 55
Jumlah skor untuk 4 menjawab 4 : 4 x 4 = 16
Jumlah skor untuk 0 menjawab 3 : 0 x 3 = 0
Jumlah skor untuk 0 menjawab 2 : 0 x 2 = 0
Jumlah skor untuk 0 menjawab 1 : 0 x 1 = 0
Jumlah = 71
Jumlah skor ideal untuk item No. 1 (skor tertinggi ) = 5 x 15 = 75 (SS)
Jumlah skor terendah 1 x 15 = 15 (TS)

Jadi, berdasarkan data (item No.1) yang diperoleh dari 15 responden maka Kepemimpinan .... yaitu 71/75 x 100 % = 94,6 tergolong Sangat Kuat. Presentase kelompok responden untuk item No.1 dapat dilihat sebagai berikut.
Data di atas didasarkan pada kriteria interpretasi Skor
Angka 0% - 20 % = Sangat Lemah
Angka 21% - 40 % = Lemah
Angka 41% - 60% = Cukup
Angka 61% - 80% = Kuat
Angka 81% - 100% = Sangat Kuat

Perhitungan untuk data atau item No. 2
Perhitungan Skor Penelitian ....
Jumlah skor untuk 10 menjawab 5 : 10 x 5 = 50
Jumlah skor untuk 5 menjawab 4 : 5 x 4 = 20
Jumlah skor untuk 0 menjawab 3 : 0 x 3 = 0
Jumlah skor untuk 0 menjawab 2 : 0 x 2 = 0
Jumlah skor untuk 0 menjawab 1 : 0 x 1 = 0
Jumlah = 70
Jumlah skor ideal untuk item No. 2 (skor tertinggi ) = 5 x 15 = 75 (SS)
Jumlah skor terendah 1 x 15 = 15 (TS)

Jadi, berdasarkan data (item No.2) yang diperoleh dari 15 responden maka Kepemimpinan .... yaitu 70/75 x 100 % = 93,33 tergolong Sangat Kuat. Presentase kelompok responden untuk item No.1 dapat dilihat sebagai berikut.

Data di atas didasarkan pada kriteria interpretasi Skor
Angka 0% - 20 % = Sangat Lemah
Angka 21% - 40 % = Lemah
Angka 41% - 60% = Cukup
Angka 61% - 80% = Kuat
Angka 81% - 100% = Sangat Kuat


Perhitungan untuk data atau item No. 3
Perhitungan Skor Penelitian ....
Jumlah skor untuk 7 menjawab 5 : 7 x 5 = 35
Jumlah skor untuk 4 menjawab 4 : 7 x 4 = 28
Jumlah skor untuk 0 menjawab 3 : 0 x 3 = 0
Jumlah skor untuk 1 menjawab 2 : 1 x 2 = 2
Jumlah skor untuk 0 menjawab 1 : 0 x 1 = 0
Jumlah = 65
Jumlah skor ideal untuk item No. 3 (skor tertinggi ) = 5 x 15 = 75 (SS)
Jumlah skor terendah 1 x 15 = 15 (TS)

Jadi, berdasarkan data (item No.3) yang diperoleh dari 15 responden maka Kepemimpinan .... yaitu 65/75 x 100 % = 86,66 dibulatkan menjadi 87 % tergolong Sangat Kuat. Presentase kelompok responden untuk item No.3 dapat dilihat sebagai berikut.

Data di atas didasarkan pada kriteria interpretasi Skor
Angka 0% - 20 % = Sangat Lemah
Angka 21% - 40 % = Lemah
Angka 41% - 60% = Cukup
Angka 61% - 80% = Kuat
Angka 81% - 100% = Sangat Kuat

Perhitungan untuk data atau item No. 4

Perhitungan Skor Penelitian ....
Jumlah skor untuk 10 menjawab 5 : 10 x 5 = 50
Jumlah skor untuk 5 menjawab 4 : 5 x 4 = 20
Jumlah skor untuk 0 menjawab 3 : 0 x 3 = 0
Jumlah skor untuk 0 menjawab 2 : 0 x 2 = 0
Jumlah skor untuk 0 menjawab 1 : 0 x 1 = 0
Jumlah = 70

Jumlah skor ideal untuk item No. 4 (skor tertinggi ) = 5 x 15 = 75 (SS)
Jumlah skor terendah 1 x 15 = 15 (TS)


Jadi, berdasarkan data (item No.4) yang diperoleh dari 15 responden maka Kepemimpinan .... yaitu 70/75 x 100 % = 93,33 tergolong Sangat Kuat. Presentase kelompok responden untuk item No.4 dapat dilihat sebagai berikut.

Data di atas didasarkan pada kriteria interpretasi Skor

Angka 0% - 20 % = Sangat Lemah
Angka 21% - 40 % = Lemah
Angka 41% - 60% = Cukup
Angka 61% - 80% = Kuat
Angka 81% - 100% = Sangat Kuat

Perhitungan untuk data atau item No. 5
Perhitungan Skor Penelitian ....
Jumlah skor untuk 11 menjawab 5 : 11 x 5 = 55
Jumlah skor untuk 4 menjawab 4 : 4 x 4 = 16
Jumlah skor untuk 0 menjawab 3 : 0 x 3 = 0
Jumlah skor untuk 0 menjawab 2 : 0 x 2 = 0
Jumlah skor untuk 0 menjawab 1 : 0 x 1 = 0
Jumlah = 71
Jumlah skor ideal untuk item No. 5 (skor tertinggi ) = 5 x 15 = 75 (SS)
Jumlah skor terendah 1 x 15 = 15 (TS)

Jadi, berdasarkan data (item No.5) yang diperoleh dari 15 responden maka Kepemimpinan .... yaitu 71/75 x 100 % = 94,6 tergolong Sangat Kuat. Presentase kelompok responden untuk item No.5 dapat dilihat sebagai berikut.
Data di atas didasarkan pada kriteria interpretasi Skor
Angka 0% - 20 % = Sangat Lemah
Angka 21% - 40 % = Lemah
Angka 41% - 60% = Cukup
Angka 61% - 80% = Kuat
Angka 81% - 100% = Sangat Kuat
Bila didasarkan pada kelompok responden, maka dapat diketahui bahwa:
11 orang menyatakan Sangat Setuju (SS) = 11/15 x 100% = 73, 33%
4 orang menyatakan Setuju (S) = 4/15 x 100% = 26,66%
0 orang menyatakan Kurang Setuju (KS) = 0/15 x 100% = 0
0 orang menyatakan Kurang Setuju (R) = 0/15 x 100% = 0
0 orang menyatakan Kurang Setuju (TS) = 0/15 x 100% = 0

Perhitungan untuk data atau item No. 6
Perhitungan Skor Penelitian ....
Jumlah skor untuk 9 menjawab 5 : 9 x 5 = 45
Jumlah skor untuk 3 menjawab 4 : 3 x 4 = 12
Jumlah skor untuk 2 menjawab 3 : 2 x 3 = 6
Jumlah skor untuk 1 menjawab 2 : 1 x 2 = 2
Jumlah skor untuk 0 menjawab 1 : 0 x 1 = 0
Jumlah = 65
Jumlah skor ideal untuk item No. 6 (skor tertinggi ) = 5 x 15 = 75 (SS)
Jumlah skor terendah 1 x 15 = 15 (TS)

Jadi, berdasarkan data (item No.6) yang diperoleh dari 15 responden maka Kepemimpinan .... yaitu 65/75 x 100 % = 86,66 dibulatkan menjadi 87% tergolong Sangat Kuat. Presentase kelompok responden untuk item No.6 dapat dilihat sebagai berikut.

Data di atas didasarkan pada kriteria interpretasi Skor Angka 0% - 20 % = Sangat Lemah Angka 21% - 40 % = Lemah Angka 41% - 60% = Cukup Angka 61% - 80% = Kuat Angka 81% - 100% = Sangat Kuat
Perhitungan untuk data atau item No. 7
Perhitungan Skor Penelitian ....
Jumlah skor untuk 9 menjawab 5 : 9 x 5 = 45
Jumlah skor untuk 5 menjawab 4 : 5 x 4 = 20
Jumlah skor untuk 1 menjawab 3 : 1 x 3 = 3
Jumlah skor untuk 0 menjawab 2 : 0 x 2 = 0
Jumlah skor untuk 0 menjawab 1 : 0 x 1 = 0
Jumlah = 68
Jumlah skor ideal untuk item No. 1 (skor tertinggi ) = 5 x 15 = 75 (SS)
Jumlah skor terendah 1 x 15 = 15 (TS)

Jadi, berdasarkan data (item No.7) yang diperoleh dari 15 responden maka Kepemimpinan .... yaitu 68/75 x 100 % = 90,66 % tergolong Sangat Kuat. Presentase kelompok responden untuk item No.7 dapat dilihat sebagai berikut.
Data di atas didasarkan pada kriteria interpretasi Skor

Angka 0% - 20 % = Sangat Lemah
Angka 21% - 40 % = Lemah
Angka 41% - 60% = Cukup
Angka 61% - 80% = Kuat
Angka 81% - 100% = Sangat Kuat

Perhitungan olah data di atas menunjukkan bahwa sebuah informasi dapat dihasilkan dari berbagai alat yang dipakai dalam metodologi penelitian. Misalnya kita kenal ada SPSS. Pemanfaatan tools ini bukanlah satu-satunya alat dalam mengolah data penelitian. Masih banyak alat, salah satunya yakni kriteria interpretasi skor. Rumus ini dapat dipelajari dalam berbagai buku metodologi penelitian yang dijual di toko buku seperti gramedia, toko buku online seperti tokopedia dll.

Jadi, yang hendak saya tegaskan disini yakni contoh diatas merupakan salah satu pemanfaatan rumus kriteria interpretasi skor yang digunakan untuk penelitian yang bisa dilakukan dalam pendidikan tinggi atau perguruan tinggi. Perguruan tinggi yang dimaksud seperti: Sekolah Tinggi, Institut, Universitas.

Semoga bermanfaat
Read More

Minat dan Motivasi Belajar PAK

Minat dan Motivasi Belajar PAK
Secara teologis, kanon Kristen menegaskan bahwa manusia adalah ciptaan Tuhan yang segambar dan serupa dengan Tuhan. Artinya ada potensi-potensi dalam diri manusia seperti adanya minat dan mootivasi dalam diri seseorang. Dengan motivasi dan minat tersebut maka manusia dapat berinteraksi dengan lingkungan. Melalui penjelasan ini secara tegas dinyatakan bahwa setiap manusia ciptaan-Nya sudah memiliki potensi daya dorong dan daya menaruh perhatian pada sesuatu di luar dirinya. Melalui potensi inilah, guru dapat melakukan perannya untuk mempengaruhi apa yang sudah ada dalam diri siswa. Beberapa diantaranya yakni minat (perhatian) dan motivasi (daya dorong).

Di atas sudah disebut peran guru. Untuk memahami secara terminologi tentang kata “guru”, perlulah uraian singkat tentang arti guru. Kata guru memiliki arti orang yang pekerjaannya atau mata pencahariannya, profesinya adalah mengajar. Mengajar berarti memberi instruksi terarah kepada peserta didik untuk perubahan tiga kecakapan dalam diri peserta didik, yaitu perubahan kognitif, afektif dan psikomotorik.


Pengertian guru sebagai orang yang mengerjakan pekerjaan profesional maka jelaslah bahwa setiap orang yang hendak menjadi guru harus memenuhi persyaratan profesionalisme, unsur profesionalisme guru yakni: menyelesaikan studi sesuai spesialisasi yaitu Prodi Pendidikan, unsur lain dari profesi guru yaitu kemampuan membuat silabus, RPP/RPS, mempersiapkan materi sesuai tujuan yang telah ditetapkan, mampu menggunakan strategi dan metode mengajar serta penggunaan media dan kecakapan evaluai.

Salah satu definisi mengajar yang masih bisa dikritk yaitu mengajar diartikan mentransfer pengetahuan kepada anak didik dengan cara menuntun atau mendidik. Kritik atas definisi ini yaitu mengajar berdasarkan definisi ini maka tugas guru hanya transfer pengetahuan. Padahal mengajar itu lebih luas artinya. Walau demikian, definisi ini sudah umum ada dalam diri guru. Dalam konteks Pendidikan Kristen, guru Pendidikan Kristen adalah orang yang pekerjaannya mengajar pendidikan Kristen baik dalam sekolah negeri maupun swasta. Baik yang sudah ditetapkan menjadi pegawai negeri maupun yang tidak menjadi pegawai negeri, dengan memenuhi syarat guru Agama Kristen sebagai berikut:
1) memiliki pengetahuan yang hidup mengenai pokok yang diajarkan itu.
2) kecakapan untuk menimbulkan minat, motivasi, bahkan menggembirakan hati orang lain dengan pokok itu.
3) memiliki kerelaan untuk dilupakan sendiri, asal pengajarannya tetap tertanam saja dalam hidup orang didikannya
4) semangat pengorbanan diri, sebagai sebutir benih yang rela mati supaya dapat melahirkan hidup baru berlipat-lipat ganda.

Berdasarkan persyaratan diatas, dapat dikatakan bahwa pekerjaan menjadi guru Pendidikan Agama Kristen memerlukan keahlian khusus yang tidak dapat dilakukan oleh orang Iain yang tidak memiliki persyaratan tersebut. Dengan kata lain untuk menjadi guru PendidikanAgama Kristen tidak dapat dilakukan oleh sembarang orang, melainkan oleh orang yang memiliki kualifikasi profesionalisme guru PAK. Profesionalisme itu salah satunya memiliki latar belakang pendidikan keguruan Pendidikan Agama Kristen, atau memiliki sertifikat kelayakan mengajar yang dikeluarkan oleh lembaga pengelola pendidikan yang syah status hukumnya.

Kata pendidikan Agama Kristen diartikan sebagai berikut. Pendidikan sering diartikan tuntunan dengan cara mengajar, atau pemberian ilmu pengetahuan kepada anak didik dengan cara mendidik atau menuntun anak didik dengan ilmu tersebut. Disini perlu diberi pemahaman tentang pendidikan dan pengajaran. Mengajar adalah memberi ilmu atau mentransfer ilmu kepada anak sehingga anak mengalami perubahan dengan cara menuntun anak. Jadi ada peran guru dalam hal mendidik dan mengajar. Oleh karena menuntun inilah maka kepada guru Agama Kristen dituntut teladan hidup yang dapat dicontoh atau diteladani siswa. Mengajar di kelas atau menyampaikan pelajaran dengan kata-kata verbal di dalam kelas harus diikuti dengan pola hidup yang menunjang dari guru yang bersangkutan Dengan kata lain guru harus mengamalkan tut wuri handayani. Mengajar tentang ajaran yang diperintahkan dalam kitab suci harus diikuti dengan teladan hidup guru Agama Kristen yang cocok dengan pengajaran yang telah disampaikan. Misalnya guru Agama Kristen mengajarkan kepada siswa tentang pengamalan nilai-nilai iman Kristen dalam kehidupan bermasyarakat, baik di sekolah maupun di masyarakat umum maka guru Agama juga harus hidup dalam ajaran tersebut.

Selain itu pendidikan atau mendidik dapat diartikan kesediaan guru PAK membantu anak didik agar segala yang ada pada anak didik berkembang sebaik-baiknya, termasuk. Para pendidik boleh menuntunnya, sehingga anak didik sanggup mengatur daya nalarnya, bakat, nafsu dan alam sekitarnya.

Menumbuhkan Minat atan Motivasi Belajar

Pembahasan tentang minat, bakat dan motivasi belajar dimaksudkan untuk melihat keterkaitan keberhasilan belajar siswa dengan unsur-unsur tersebut, atau bagaimana minat, bakat dan motivasi belajar siswa mempengaruhi keberhasilan dalam pembelajaran di sekolah sebab tanpa minat, bakat dan motivasi belajar maka kegiatan belajar siswa akan mengalami kegagalan. Artinya minat, bakat dan motivasi adalah beberapa unsur dari sekian unsur yang mempengaruhi proses pembelajaran setiap mata pelajaran dengan efektif atau berhasil.

1. Teori Minat dan Bakat

Minat adalah keinginan seseorang siswa untuk mengikuti suatu bidang studi. Sedangkan E.P.Hutabarat mendefinisikan minat dalam pendidikan adalah suatu kekuatan yang menyebabkan seorang siswa tertarik kepada pelajaran. Cipta Ginting merumuskan minat sebagai kecendrungan hati, keinginan dan kesukaan terhadap sesuatu. Artinya semakin besar minat siswa terhadap pelajaran maka perhatian siswa mudah tercurah pada pelajaran tersebut. Jadi minat dan perhatian semakin erat berhubungan. Ini berarti bila siswa memiliki keinginan belajar Pendidikan Agama Kristen maka siswa dapat hadir di kelas untuk mengikuti proses pembelajaran secara baik. Sebaliknya jika siswa tidak memiliki keinginan mengikuti Pendidikan Agama Kristen maka ia tidak dapat mengikuti pelajaran agama ataupun hadir di kelas tetapi tidak berkonsentrasi secara baik dalam mengikuti pelajaran.

Dalam dunia pendidikan terdapat beberapa hal yang mempengaruhi efektifitas proses pembelajaran, yaitu: minat; bakat; motivasi belajar; tujuan yang hendak dicapai; cara belajar; perencanaan kegiatan akademik dan disiplin diri.

Bakat adalah suatu karakteristik siswa yang berkaitan dengan prestasinya. Misalnya seorang siswa yang mengambil program Pendidikan Agama di Perguruan Tinggi Teologi, ia harus memiliki latar belakang kecintaan terhadap ilmu agama sejak SMA atau mempunyai keinginan terhadap ilmu tersebut.
Berdasarkan uraian tentang minat dan bakat tersebut dapat dikatakan bahwa usaha guru PAK dalam menumbuhkembangkan minat dan motivasi siswa terhadap Pendidikan Agama Kristen bergantung pada anak dan guru. Pada diri siswa dituntut keinginan belajar sedangkan pada guru dituntut usaha menggairahkan siswa untuk belajar dengan cara menggunakan berbagai teori pendidikan seperti penggunanaan media secara bervariasi, penggunaan nada suara secara bervariasi, dan seterusnya.

2. Teori motivasi

Motivasi berasal dari bahasa latin, dari kata “movere” artinya mendorong atau menggerakkan manusia untuk melakukan suatu kegiatan. Selanjutnya menurut Soen Siregar, motivasi adalah dorongan yang muncul dalam diri seseorang atau dorongan mengelola internalself dalam diri seseorang dalam memberi respon positif dan konsisten terhadap situasi, keberhasilan, tantangan, masalah yang dihadapi dalam kehidupan manusia.

Selain definisi di atas, William G. Scott, mengartikan motivasi sebagai suatu proses kejiwaan atau proses psikis yang mencerminkan interaksi antara sikap, kebutuhan persepsi, dan keputusan yang terjadi pada diri seseorang yang diakibatkan oleh factor internal seseorang (intrinsik) yang dapat berupa kepribadian, sikap, pengalaman dan pendidikan atau berbagai harapan, cita-cita yang menjangkau ke masa depan. Dengan kata lain motivasi adalah kecendrungan dalam diri seseorang yang menimbulkan topangan dan mengarahkan tindakan seseorang.

Defenisi motivasi sebagaimana yang dipaparkan di atas dapat dipahami, karena motivasi dan arti kata dasar motif (motif) yang berarti dorongan, sebab atau alas an seseorang melakukan sesuatu, motivasi dapat dimengerti sebagai suatu kondisi yang mendorong seseorang untuk melakukan kegiatan atau perbuatan yang berlangsung secara sadar. Menurut A.L. Meginnis, motivasi haruslah muncul dari dalam diri yang bersangkutan, walaupun menurut dia keberhasilan seseorang di dapat dari inspirasi seseorang seperti dari sesama siswa, dari guru, dan lingkungan lainnya. Sedangkan menurut Cipta Ginting, motivasi belajar adalah dorongan belajar. Artinya “motivasi belajar seseorang menentukan besarnya upaya belajar yang dilakukan”

Jadi, motivasi mempengaruhi seseorang untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Motivasi selalu dibedakan dalam dua motivasi, yaitu (1) motivasi instrinsik yaitu dorongan yang muncul dalam diri seseorang untuk melakukan sesuatu kegiatan. Sedangkan (2) motivasi ekstrensik adalah dorongan dalam diri seseorang untuk melakukan sesuatu kegiatan karena pengaruh dari luar dirinya. Misalnya untuk dua motivasi ini, diambil contoh dalam kaitan pembelajaran, seperti: Siswa belajar karena didirong oleh keinginan untuk mengetahuinya (motivasi instrinsik). Siswa belajar supaya memperoleh nilai yang baik, naik kelas, dan mendapat ijazah (motivasi ekstrensik).

Pembahasan tentang definisi motivasi pada akhirnya harus juga dihubungkan dengan motivasi karena menurut S. Nasution, motivasi apapun tetap ia berhubungan dengan suatu tujuan. Maka menjadi jelas bahwa dalam pembelajaran harus ada tujuan dan berdasarkan tujuan tersebut maka anak akan termotivasi belajar, baik motivasi secara intrinsik dan ekstrensik.

Bila pembahasan tentang motivasi dihubungkan dengan belajar maka menjadi jelas bahwa siswa harus mempunyai motivasi atau dorongan-dorongan dan minat untuk belajar. Dan dorongan belajar akan berlangsung secara baik apabila ada dorongan instrinsik dan ekstrensik dalam diri siswa. Dorongan-dorongan belajar sebagaimana yang muncul dalam uraian teori motivasi, yaitu bahwa sudah ada potensi dorongan dalam diri manusia sejak lahir, khususnya siswa pasti memiliki kebutuhan-kebutuhan yang mendorong dia melakukan kegiatan, termasuk kegiatan belajar. Siswa belajar karena ingin berhasil, siswa belajar karena ingin suatu saat mendapat pekerjaan, jadi ada berbagai kebutuhan dan harapan dalam diri siswa yang akan mendorongnya untuk melakukan kegiatan, seperti melakukan kegiatan belajar. Disini motivasi penting, karena tanpa motivasi orang tidak akan melakukan sesuatu kegiatan.

Berdasarkan uraian di atas maka guru PAK perlu memperhatikan bahwa siswa memiliki motivasi instrinsik sekaligus memiliki motivasi ekstrinsik. Oleh karena itu maka guru PAK harus menggunakan lingkungan belajar sedemikian rupa sehingga siswa termotivasi untuk belajar. Lingkungan belajar yang dimaksud adalah penataan kelas secara bervariasi yang menarik siswa, guru PAK menggunakan suara secara bervariasi dalam mengajar, guru PAK menggunakan media pembelajaran secara bervariasi, guru PAK menggunakan metode mengajar secara bervariasi. Hal-hal inilah yang dimaksud dengan lingkungan pembelajaran yang mempengaruhi siswa termotivasi untuk belajar.

3. Teori Belajar

Teori belajar yang dimaksud dalam bagian ini adalah pengertian-pengertian tentang belajar yang dikemukan oleh pecinta ilmu pendidikan dan ahli-ahli pendidikan. Pengertian tentang belajar yang dikemukan para ahli pendidikan juga dipengaruhi oleh psikologi pendidikan yang dianut oleh mereka. Dengan kata lain setiap aliran psikologi belajar memberi definisi dengan penekanan pada aspek-aspek tertentu pada diri nara didik, seperti ranah kognitif, afektif dan psikomotorik.

Berikut ini dikemukan beberapa definisi yang dirumuskan oleh para ahli pendidikan tentang belajar. Definisi yang dibuat disini tidak dikelompokkan berdasarkan psikologi belajar yang mempengaruhi setiap ahli yang mendefenisikan tentang belajar. Dalam hal ini penulis akan memaparkan secara umum pengertian tentang belajar.

W. S. Winkel menyatakan, belajar adalah proses perubahan dari belum mampu ke arah sudah mampu E.P.Hutabarat mendefinisikan, belajar adalah kegiatan yang dilakukan siswa untuk menguasai pengetahuan, kemampuan, kebiasaan, ketrampilan dan sikap melalui hubungantimbal balik antara siswa dengan lingkungannya.Silva Sukirman mendefinisikan, “belajar adalah usaha untuk memperoleh kepandaian atau ilmu pengetahuan”.

Berdasarkan definisi di atas, maka maksud belajar adalah terjadinya perubahan dalam diri siswa. Perubahan tersebut mencakup perubahan diri siswa dalam aspek pengetahuan atau kognitif, perubahan sikap dan perubahan ketrampilan yang berkaitan dengan Pendidikan Agama Kristen yang diikuti di sekolah.
4. Pengertian menumbuhkan minat dan motivasi belajar

Proses pembelajaran yang bermanfaat adalah bila ada minat siswa untuk memperhatikan pelajaran yang diajarkan. Tanpa minat maka siswa tidak akan mencapai tujuan pembelajaran. Minat atau perhatian dari siswa terhadap pelajaran merupakan salah satu indikator berhasil tidaknya proses pembelajaran, termasuk pembelajaran Pendidikan Agama Kristen di SMA. Semakin siswa menaruh minat pada pelajaran maka siswa tersebut akan berhasil dalam pelajaran.
Setiap manusia sejak lahir telah memiliki potensi minat atau motivasi yang mempengaruhi manusia untuk melakukan sesuatu kegiatan. Tidak ada manusia yang tidak memiliki minat atau dorongan dalam dirinya. Dengan kata lain semua manusia mempunyai dorongan dalam dirinya. Sehingga dengan dorongan itu ia bertindak dan berkarya. Dalam kenyataan proses pendidikan sedikit siswa yang menunjukkan dorongan atas kemauannya atau usahanya sendiri, lebih banyak siswa yang harus diberi dorongan barulah muncul dorongan dalam dirinya untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang dikehendakinya seperti minat untuk belajar. Dengan demikian maka perlu ada kiat-kiat untuk menumbuhkan minat belajar siswa.

Minat seperti bahasan di atas menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran Agama Kristen yang berhasil di sekolah apabila siswa memiliki minat dan untuk memunculkan minat guru PAK harus berperan secara maksimal. Namun perlu juga disadari bahwa ada banyak faktor yang menyebabkan siswa tidak menaruh konsentrasi atau minat terhadap pelajaran Agama Kristen. Faktor penyebab itu bisa karena lingkungan dimana anak tinggal, lingkungan teman di sekolah, penampilan guru dan hal-hal lain yang tidak disebutkan disini ikut mempengaruhi ada tidaknya minat atau motivasi siswa dalam belajar Pendidikan Agama Kristen. Ini harus menjadi perhatian guru Pendidikan Agama Kristen ketika melakukan proses pembelajaran Pendidikan Agama Kristen di sekolah.

Pada bagian ini hendak ditegaskan bahwa minat atau motivasi siswa ada yang terjadi atas dorongannya sendiri tetapi ada pula yang harus datang dari orang lain, disinilah peranan guru Agama Kristen memanfaatkan aspek luar dari diri siswa sehingga mereka termotivasi untuk belajar Pendidikan Agama Kristen. Aspek luar yang hendak diberdayakan oleh guru PAK sehingga minat siswa tertuju kepada siswa dapat dilakukan dengan cara berkomunikasi secara jelas pada waktu mengajar, menggunakan media secara variasi dan aspek-aspek lainnya

Read More

Persembahan Korban dalam PL dan PB

Persembahan Korban dalam PL dan PB
Persembahan korban adalah salah satu tema dalam Alkitab. Perjanjian Lama mengisahkan praktik persembahan korban yang dilakukan umat pilihan yaitu bangsa Israel kala itu, kemudian persembahan korban juga dilakukan pada zaman Perjanjian Baru, selanjutnya silakan simak tulisan berikut ini:

1. Zaman kerajaan.

Pembangunan Bait Allah oleh Salomo menuntut upacara penahbisan dengan penyerahan korban persembahan (1 Raj 8:62 dab) dan korban-korban biasa (1 Raj 9:25). Tapi karena sumber informasi itu adalah beberapa kitab tentang 'raja-raja', maka kitab-kitab itu lebih berbicara tentang peranan raja (bnd 2 Raj 16:10 dab) ketimbang peranan rakyat. Bahwa upacara harian keagamaan berjalan terus, dinyatakan oleh ay seperti 2 Raj 12:16, dan oleh seringnya hal itu disebut dalam kitab nabi-nabi dan mazmur-mazmur. Beberapa hunjukan dalam mazmur menyatakan bahwa kutukan-kutukan dahulu janganlah diartikan mutlak, seolah-olah kelompok nabi bertentangan dengan kelompok imam. Para nabi tidak seberapa keras menentang upacara itu sendiri, tapi keras menentang ide-ide yg melibatkan peranan sihir yg diambil dari upacara-upacara kesuburan (Am 4:4, 5; Yes 1:11-16), dan terhadap hal-hal yg baru seperti menyembah berhala dan mengorbankan anak-anak yg diperkenalkan oleh penguasa yg murtad (Yer 19:4; Yeh 16:21).
Tokoh seperti Yesaya dapat memperoleh panggilannya di Bait Allah (Yes 6), dan tokoh Yeremia atau Yehezkiel dapat menemukan tempat bagi upacara pemurnian di masa datang (Yer 17:26; Yeh 40-48). Hal ini juga merupakan perasaan yg dominan di kalangan pemazmur, yg terus-menerus berbicara tentang korban persembahan pengucapan syukur mereka guna memenuhi nazar sumpah mereka (mis Mzm 66: 13-15). Ungkapan tentang pertobatan dan kesukacitaan berkat pengampunan juga ada (Mzm 32; 51), dan meskipun korban tidak sering disebut dalam konteks-konteks itu, toh dapat diandaikan ada sebab pengampunan itu dialami di Bait Allah (Mzm 65:1-5). Tidak perlu menganggap semua acuan macam itu berasal dari zaman pasta pembuangan, walaupun keluhan para nabi bahwa pertobatan acap kali tidak cukup menyertai korban dalam periode kerajaan yg terakhir harus juga diingat.

2. Zaman pasca pembuangan.

Musibah 'pembuangan' biasanya dinalar sebagai mendampakkan pengakuan berdosa yg lebih mendalam. Bahwa hal itu benar tidak perlu diragukan (lih 2 Raj 17:7 dab; Neh 9), tapi tidak dalam pengertian seperti dikemukakan oleh Wellhausen, bahwa nada menebus dosa barulah waktu itu memasuki agama Israel (Im 1-7 dan 16). Acuan-acuan terhadap korban persembahan dalam tulisan-tulisan yg tidak berasal dari kelompok imam pra dan pasca pembuangan, yg umumnya terlalu fragmentaris untuk menyoroti masalah itu, tidak menunjang teori tersebut. Kesukacitaan maupun pertobatan tetap mencirikan korban (Ezr 6:16-18; Neh 8:9 dab). Bait Allah dan upacara dihargai (Hag 1-2; Yl 2:14, dan terutama Taw), namun hanya selama itu merupakan wahana bagi ibadah yg sungguh (Mal 1:6 dab; 3:3 dab). Kesusastraan apokaliptik dan kebijaksanaan menganggap upacara sebagai sesuatu yg sudah ada (Dan 9:21, 27; Pkh 5:4; 9:2) dan juga melanjutkan penekanan moral khas nabi (Pkh 5:1; Ams 15:8).

3. Peraturan-peraturan hukum

Hukum tentang korban persembahan berserakan dalam Kitab-kitab hukum (Kel 20:24 dab, 34:25 dab; Im 17; 19:5 dab; Bil 15; Ul 12, dll), tapi 'torat' tentang korban itu terutama ialah Im 1-7. Ps 1-5 secara berurutan menyangkut korban bakaran ('ola), korban sajian (minkha), korban pendamaian (zevakh), korban penghapus dosa (khatta't), dan korban penebus salah ('asyam), sedangkan ps 6-7 memberikan tambahan peraturan untuk kelima-limanya -- 6:8-13 (bakaran), 7:11 dab (pendamaian).
Korban yg akan dipersembahkan haruslah ternak atau burung yg halal (Kej 8:20). Jadi bisa lembu jantan, kambing, domba, merpati (bnd Kej 15:9), tidak onta atau tidak keledai (Kel 13:13) Ketentuan macam itu janganlah dilacak sampai pada gagasan bahwa korban itu untuk santapan 'dewa-dewa' (bahwa dewa memakan apa yg dimakan manusia) -- seperti yg mungkin terkesan oleh Im 3:11; 21:6; Yeh 44:7 -- karena ikan (Im 11:9) dan binatang-binatang liar (Ul 12:22) boleh dimakan tapi tidak boleh dijadikan korban. Nampaknya prinsipnya ialah, manusia wajib memberi kepada Allah sesuatu yg adalah milik manusia itu sendiri (bnd 2 Sam 24:24); binatang liar dianggap adalah kepunyaan Allah, bukan kepunyaan manusia (Mzm 50:9 dab; Yes 40:16), sedangkan binatang piaraan adalah milik manusia oleh pekerjaannya (Kej 22:13 sebenarnya bukan pengecualian), dan berada dalam semacam 'kesesuaian biotik' dengan dia. Hal ini lebih jelas dalam hal korban tanpa darah, yg dihasilkan dengan 'keringat di alisnya' (biji-bijian, tepung, minyak, anggur, dll), dan yg senantiasa dimakan. Hal-hal yg dimiliki tidak sesuai dengan hukum, tidak boleh dipersembahkan (Ul 23:18).

Prinsip 'yg terbaik bagi Tuhan' senantiasa dilaksanakan; dalam hal jenis kelamin, jantan lebih diutamakan ketimbang betina (Im 1:3; tapi bnd Im 3:1; Kej 15:9; 1 Sam 6:14; 16:2); dalam hal umur, kematangan sangat dihargai (1 Sam 1:24); dalam hal kesempurnaan fisik, 'tanpa cacat' senantiasa ditekankan (Im 1:3; 3:1; Ul 15:21; 17:1; 22:17-25; bnd Mal 1:6 dab, tapi hendaknya dicatat perkecualian bagi korban persembahan sukarela, Im 22:23); dalam segi tertentu juga ihwal warna, dipilih warna merah (Bil 19:2), mungkin melambangkan darah (bnd lukisan-lukisan binatang yg terdapat dlm gua-gua prasejarah).

Perbedaan antara Israel dengan tetangga-tetangganya nampak jelas dalam penolakan terhadap perluasan prinsip ini sampai kepada puncaknya yg logis, yakni: korban anak sulung manusia. Mengorbankan anak-anak yg terdapat pada masa kerajaan yg terakhir (2 Raj 21:6), bahkan mengorbankan manusia dewasa pada waktu-waktu yg lebih dini (Hak 11:29 dab), berasal dari pengaruh-pengaruh luar dan dikutuk oleh nabi-nabi (Yer 7:31 dab), perintah (Im 20:4), dan contoh (Kej 22). Kel 22:29b jelas harus ditafsirkan dengan Kel 34:19, 20 dan Kel 13:12-16. Prinsip penggantian diberlakukan tidak hanya dalam mengganti anak sulung manusia dengan binatang. tapi juga dalam ketentuan yg diberikan bagi orang miskin untuk mempersembahkan korban berupa burung dara yg lebih murah untuk korban penghapus dosa (Im 5:7), dan jika ini masih terlalu mahal, korban sajian (Im 5:11). Kalimat 'sekadar kemampuannya' (Im 14:22 dab) penting artinya di sini. Penuangan minyak (Kej 28:18), anggur (Kej 35:14), dan air (? 1 Sam 7:6 ) nampaknya mendapat tempat dalam upacara, namun hanya persembahan anggur yg diacu dalam hukum-hukum dasar (Bil 28:7 dll). Larangan terhadap adonan beragi dan madu (dgn beberapa pengecualian), dan mungkin juga susu yg boleh jadi karena cepat basi. Sebaliknya, garam tentu ditambahkan ke dalam korban persembahan, karena daya pengawetannya (hanya disebutkan dlm Im 2:13 dan Yeh 43:24, bnd Mrk 9:49). Kemenyan (levona, qetoret) digunakan baik sebagai korban persembahan yg berdiri sendiri (Kel 30:7, bnd cara pembuatannya dlm ay 34-38) maupun sebagai salah satu dalam korban sajian (Im 2).

Peraturan yg ada meliputi baik korban persembahan nasional maupun perseorangan, peristiwa sehari-hari dan hari-hari raya. Korban persembahan umum paling utama ialah yg bersifat musiman seperti Hari Raya Roti Tidak Beragi, Hari Raya Menuai, dan Hari Raya Pondok Daun (Kel 23:14-17; 34:18-23; Ul 16). Dari sejak awal, hari raya pertama sudah dikaitkan dengan Paskah (Yos 5:10-12), dan yg terakhir sangat mungkin sekali dengan upacara membaharui perjanjian (Kel 24; Ul 31:10 dab; Yos 24), tahun baru dan penebusan dosa (bnd Im 23:27 dab). Daftar korban persembahan untuk upacara ini dan tambahannya secara bulanan (bulan baru), mingguan (sabat), harian (pagi dan malam), disajikan dalam Bil 28:29 dan dapat didaftarkan sbb: (A. R. S Kennedy, 1910:349) Kapan dimulai korban bakaran yg dilakukan sehari dua kali itu masih diteliti dan sulit untuk mendapatkan kepastiannya karena sifat minkha yg bermakna ganda bagi korban sajian maupun bakaran. Acuan-acuan pokoknya ialah 'Ola dan minkha yg juga tanpa catatan waktu dalam 1 Sam 3:14; Yer 14:12, dan Mzm 20:3, dan kesinambungan 'olot dan minkhot dalam Ezr 3:3 dab dan Neh 10:33.

Korban persembahan yg lebih bersifat pribadi adalah Paskah, yg dirayakan di dan oleh keluarga (Kel 12; bnd 1 Sam 20:6, tapi ini adalah bulan baru, bukan purnama), dan korban perseorangan seperti untuk memenuhi sumpah (1 Sam 1:3, bnd ay 21; 2 Sam 15:7 dab), atau pengukuhan perjanjian (Kej 31:54), penghormatan akan Tuhan (Hak 13:19), penyerahan pribadi (1 Raj 3:4), urapan (1 Sam 16:3), atau penebusan (2 Sam 24:17 dab). Apakah memberi tumpangan kepada seseorang selalu dipandang sebagai peristiwa korban tidaklah jelas (Kej 18; Bil 22:40; 1 Sam 28:24 mungkin tidak mencakup upacara mezbah, tapi bnd 1 Sam 9). Peristiwa-peristiwa tambahan yg disebut dalam hukum adalah penyucian penderita kusta (Im 14), penyucian sesudah kelahiran bayi (Im 12), penahbisan imam (Im 8-9) atau seorang bani Lewi (Bil 8), dan pembebasan seorang nasir dari sumpahnya (Bil 6). Korban persembahan yg agak jarang ialah penahbisan tempat suci (2 Sam 6:13; 1 Raj 8:5 dab, Yeh 43:18 dab; Ezr 3:2 dab), penobatan raja (1 Sam 11:15; 1 Raj 1:9), dan hari pertobatan nasional (Hak 20:26; 1 Sam 7) atau persiapan untuk pertempuran (1 Sam 13:8 dab; Mzm 20).

Di antara korban persembahan musim yg diserahkan sebagai kewajiban tahunan, dalam rangka mengakui kemurahan Tuhan memberikan hasil ialah anak sulung dan panen pertama (Kel 13; 23:19; Ul 15:19 dab; 18:4, 26; Bil 18; bnd Kej 4:3, 4; 1 Sam 10:3; 2 Raj 4:42), persepuluhan, seberkas tuaian pertama (Im 23:9 dab) dan tepung jelai yg pertama (Bil 15:18-21; Yeh 44:30; bnd Im 23:15 dab). Mungkin tujuannya bukan untuk menguduskan sisa dari hasil seluruhnya, melainkan untuk melepaskannya dari kekhususannya. Semuanya adalah milik Tuhan sampai bagian pertama dipersembahkan dan diterima mewakili seluruh panen. Setelah penyerahan korban persembahan itu barulah ditiadakan pembatasan atas sisanya untuk digunakan oleh manusia (Im 23:14; bnd 19:23-25). Bahkan bagian yg dipersembahkan itu biasanya diserahkan di mezbah hanyalah sebagai bukti, kemudian diambil untuk dimanfaatkan oleh imam atau untuk perjamuan korban. Halnya juga sama atas roti hunjukan mingguan.

Korban persembahan utama sesuai Im 1-5 dibahas dalam kerangka penyelenggaraan enam upacara keagamaan yg kaku. Tiga di antaranya dilakukan oleh penyembah dan yg tiga lagi oleh imam. Upacara penyerahan korban persembahan untuk pengampunan dosa, beberapa kali diulangi untuk berbagai tingkatan (Im 4:1-12; 13:21; 21:26; Im 27-31), mengikuti skema yg sama, kecuali dalam hal-hal yg kecil. Korban bakaran berupa unggas (Im 1:14-17) dan korban sajian (Im 2) menunjukkan keanekaragaman, namun tidak seluruhnya berbeda. Rumus yg serupa untuk korban penghapus salah tidak diberikan (kendati demikian bnd 7:1-7), tapi itu harus dimengerti termasuk dalam hukum korban penghapus dosa (Im 7:7).

(i) Penyembah membawa persembahannya mendekat (higriv) (juga hevi, 'asah). Tempat penyerahan korban adalah ruang depan Kemah Perjanjian, di sebelah utara mezbah (untuk korban bakaran, penghapus dosa dan salah, tapi tidak untuk korban pendamaian yg lebih banyak), walaupun pada masa yg lebih awal mungkin di pintu Kemah Suci (Im 17:4), atau tempat suci setempat (1 Sam 2:12 dab) atau batu karang (1 Sam 6:14) atau tugu (Kej 28:18). Membunuh korban persembahan di mezbah, walaupun tersirat di Kej 22:9 dan Kel 20:24, tidak biasa.

(ii) Penyembah meletakkan kedua tangannya (samakh), atau pada zaman Alkitab mungkin satu tangan (lih Bil 27:18) pada korban, dan besar kemungkinan sambil mengakui dosanya. Hal kedua disebut hanya dalam kaitan mempersembahkan kambing jantan di mana darah tidak ditumpahkan (Im 21), dan dengan beberapa korban penghapus dosa (Im 5:5) dan korban penghapus salah (Bit 5:7) (tapi bnd Ul 26:3; Yos 7:19, 20), sehingga semikha tidak pasti dapat diartikan pemindahan dosa. Pada sisi lain, belum cukup menganggapnya melulu tanda kepemilikan oleh pemilik, karena pertanda macam itu tidak berlaku atas korban tanpa darah kendati kedua perbuatan itu adalah sama.

Penyembelihan korban (syakhat) dilakukan sendiri oleh penyembah kecuali korban persembahan nasional (Im 16:11; 2 Taw 29:24). Dalam kesusastraan PL di luar Im kata kerja zavakh (mempersembahkan korban) dipakai, tapi mungkin mengacu kepada pemotongan daging korban sesudah penyembelihan, dan peletakan bagian-bagiannya di atas mezbah (mizbeakh, bukan misykhat) (demikian K Galling, Der Altar, 1925, hlm 56 dst). Untuk ini ntkh biasanya yg digunakan (1 Raj 18:23; Im 1:6), dan zavakh melukiskan korban-korban zevakhim, kecuali untuk beberapa bagian (Kel 20:24; 1 Raj 3:4; bnd 2 Raj 10:18 dab) dimana dihubungkan dengan 'olot. Mungkin dalam hal ini penggunaan kata kerja tersebut diperlunak, yg di dalam bahasa-bahasa serumpun bahkan dapat digunakan untuk sayuran yg dipersembahkan, dan dalam bentuk Piel Ibrani nampaknya umum digunakan bagi keseluruhan upacara (yg sering murtad). Jadi penggunaan zevakh tidaklah pasti selalu terkait dengan korban, atau apakah daging hanya dapat dimakan pada saat penyerahan korban, kendati memang sering demikian pada zaman purba (bnd masalah daging persembahan berhala di Korintus).

(iv) Penggunaan (zaraq) darah adalah urusan imam, yg menampungnya di dalam sebuah bejana dan menempatkannya di sudut timur laut dan barat daya dari mezbah, sedemikian rupa, sehingga keempat sisi mezbah itu dapat kena percikannya. Halnya sama dengan penyerahan korban bakaran binatang (Im 1), korban pendamaian (Im 3), dan korban penghapus salah (Im 7:2), tapi tidak dengan korban bakaran unggas (Im 1:15), karena jumlah darah tidak mencukupi, sehingga dipercikkan hanya pada sisi mezbah saja. Korban penghapus dosa (Im 4) menggunakan beberapa kata kerja yg berbeda, hizza ('memercik') atau natan ('menaruh') tergantung apakah korban itu tergolong tingkat pertama atau kedua (lih di bawah). Pembakaran (hiqtir) terjadi atas semua korban. Karena darah dan lemak adalah milik Tuhan, maka kedua bagian itulah yg pertama dibakar (Kej 4:4; 1 Sam 2:16). Lemak ini bukanlah lemak biasa, tapi lemak khusus seperti lemak ginjal, hati, dan usus. Dari korban pendamaian, penghapus dosa, dan penghapus salah hanya lemak jenis inilah yg dibakar. Dari korban sajian suatu bagian yg disebut 'azkara dipisahkan untuk dibakar, tapi korban-korban seluruhnya dibakar kecuali kulit, yg menjadi bagian imam (Im 7:8). Pembakaran yg lain (saraf) yg dilakukan jauh dari mezbah berkaitan dengan korban-korban dosa yg tergolong tingkat pertama. Dalam pembakaran ini kulit korban persembahan juga turut dibakar.

Bagian-bagian yg tersisa dari daging korban ('akhal) dimakan dalam perjamuan korban, baik oleh imam-imam bersama para penyembah (korban pendamaian), atau oleh imam-imam dan keluarga mereka, atau hanya oleh para imam. Makanan untuk imam digolongkan sebagai yg suci atau yg teramat suci. Golongan pertama mencakup korban-korban pendamaian (Im 10:14; 22:10 dab), panenan pertama dan persepuluhan (Bil 18:13), dan dapat dimakan oleh keluarga imam di tempat mana saja asal bersih. Golongan kedua mencakup korban penghapus dosa (Im 6:16), roti hunjukan (Im 24:9), dan dapat dimakan hanya oleh imam-imam dan di dalam Bait Allah. Pesta perjamuan massal yg jamuannya berasal dari korban pendamaian digemari dalam ibadah lokal pada zaman dulu (1 Sam 1:9), tapi dengan pensentralisasian ibadah di Yerusalem (bnd Ul 12) maka kecenderungan itu lebih memberi tempat ke aspek-aspek formal ibadah. Namun upacara serupa masih terus berlangsung sampai zaman Yeh 46:21-24.

Zaman Dunia PB

Zaman Perjanjian Baru yang dimaksud disini adalah zaman di mana dimulainya kelahiran dan pelayanan Yesus serta murid-murid-Nya. Pada zaman itu bagaimana terdapat praktik persembahan korban. Kitab Perjanjian Baru memberi pemahaman bahwa korban-korban yang dipersembahkan di dalam Perjanjian Lama adalah sebagai lambang yang menunjuk pada karya penebusan Yesus dari Nazaret sebagai Mesias. Yohanes pembabtis mengenali dan menyatakan bahwa Yesus sebagai Anak Allah yang menghapus dosa dunia (Yoh.1:29-34). Ketika Yohanes membabtis Yesus di Sungai Yordan, Yohanes memperkenalkan Dia sebagai Anak Domba yang menghapus dosa dunia (Bdk.Yoh. 1:29). Demikian juga, ketika Yesus mengatakan bahwa Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani dan memberikan nyawanya bagi banyak orang (Mark. 10:45). Yesus sendiri memahami peranNya sebagai gembala yang baik yang mengorbankan nyawa untuk domba-dombaNya (Yoh. 10:10,12). Pada bagian lain, para penulis Perjanjian Baru menafsirkan penyaliban Yesus Kristus,sebagai korban sekali untuk selama-lamanya ( Rom 5:6-11; Ibr. 10:10,12).
Jadi penderitaan Yesus sebagai korban menunjuk, kepada apa yang tertulis dalam Yesaya 53; dimana termuat suatu gagasan menghapus dosa seperti “Anak Domba’ yang dipersembahkan pada saat hari pendamaian (Donald Guthri, 2008: 70-71)

Read More

Contoh Resensi Buku Teologi Sistematika

Contoh Resensi Buku Teologi Sistematika
TEOLOGI SISTEMATIKA

Penulis : Louis Berkhof
Penterjemah : Yudha Thianto
Prakata : DR. Stephen Tong
Penerbit : Momentum 2008
Tebal buku : 340 hlm

Teologi yang berkembang telah terbukti berkompromi dengan perkembangan/pikiran jaman. Oleh sebab itu harus ada ketangguhan dan kekonsistenan untuk penafsiran Alkitab setepat mungkin sebagai dasar prinsip pengenalan terhadap Tuhan, agar menegakkan kebenaran ilmu ketuhanan atas semua pengajaran yang simpang siur/menyimpang dan berubah-ubah.
5 pokok pikiran/pemahaman atau pandangan baru yang penulis peroleh dari bacaan ini untuk membantu penulis mengerti cara memahami teologi yaitu:


1. Argumen yang paling umum tentang bukti-bukti rasional tentang keberadaan Allah : Argumen Ontologis, Argumen Kosmologis, Argumen Teleologis, Argumen Moral, dan Argumen Historis atau Etnologis (hlm 21-24).

2. Doktrin Tritunggal sebelum dan sesudah reformasi. Masa sebelum reformasi, karena penekanan tentang kesatun Allah terus dipertahankan dalam Gereja, akhirnya sebagian orang menyingkirkan perbedan pribadi dalam Allah Tritunggal dan yang lain gagal memberikan penjelasan yang sempurna pada keilahian esensial dari pribadi kedua dan ketiga Allah Tritunggal. Pada masa sebelum reformasi Tertulianus orang pertama yang memkai istilah Tritunggal, tetapi formulasinya masih memiliki banyak cacat. Pada masa sesudah Reformasi sudah semakin sempurna (hlm 141-145).

3. Kedudukan Supralapsarian dan argument-argumen yang mendukung dan keberatan-keberatan terhadap Supralapsarian (hlm 220-225).

4. Kedudukan Infralapsarian dan argument-argumen yang mendukung dan keberatan-keberatan terhadap Infralapsarian (225-228).
5. Jalan keluar yang disarankan untuk menjawab persoalan : penciptaan adalah tindakan temporal Allah (hlm 241-244)

Kelebihan :

1. Menjelaskan dengan baik istilah-istilah teologis ke dalam bahasa Indonesia dengan tepat
2. Menambahkan kosa kata khusus (Glossarium) yang sangat membantu para pembaca.
3. Ada usaha yang serius untuk menegakkan kebenaran ilmu ketuhanan, karena banyaknya pengajaran yang simpang siur dan berubah-ubah pada jaman Perjanjian Lama sampai sekarang ini
4. Memunculkan pertanyaan-pertanyaan yang menjadi perangsang berpikir secara kritis bagi pembaca, dan juga memberikan jawaban-jawaban atau pendekatan-pendekatan untuk persoalan tersebut.

Kelemahan: Saya tidak menemukan kelemahan dalam isi buku ini
Buku ini direkomendasikan untuk dibaca/ dipelajari oleh dosen, hamba Tuhan, mahasiswa Teologi, untuk memperdalam kepercayaan, pengetahuan, agar dapat mengajar, bersaksi dan berapologet/mempertahankan/mempertanggungjawabkan imannya, agar terhindar dari bahaya pengajaran sesat atau yang menjatuhkan iman orang percaya. Buku ini juga memiliki daftar kosa kata khusus (glosari) yang sangat membantu para pembaca (mahasiswa maupun hamba Tuhan).
Buku ini kurang/tidak cocok dibaca/dipelajari oleh kaum awam, oleh karena banyak istilah, bahasa asli (Ibrani), kalimat, pernyataan yang sulit dimengerti oleh kaum awam.

(Oleh Evelita Harianja).

Read More

Contoh Resensi Buku Seri Dogmatika

Contoh Resensi Buku Seri Dogmatika
RESENSI BUKU
ALLAH TRITUNGGAL

Penulis : Pdt. DR. Stephen Tong
Penerbit : Lembaga Reformed Injili Indonesia
Tebal buku : 109 hlm

Salah satu keunikan kekristenan adalah kepercayaan terhadap Allah Tritunggal. Unik karena Allah yang Tunggal itu adalah kasih dan Allah yang kekal. Kepercayaan terhadap Allah Tritunggal tidak ada pada agama-agama lain. Doktrin ini begitu jelas diajarkan dalam Alkitab, namun selalu menjadi kesulitan yang besar bagi orang Kristen,maupun orang bukan Kristen. Sulit dimengerti bukan berarti tidak mungkin dimengerti. Walaupun sulit doktrin harus tetap dipelajari, dimengerti dan diajarkan,bahwa Allah Tritunggal adalah tiga pribadi dalam satu Allah, atau di dalam satu esensi diri Allah ada tiga pribadi.

5 pokok pikiran/pemahaman atau pandangan baru yang penulis peroleh dari bacaan ini untuk membantu penulis mengerti cara memahami teologi yaitu:

1. Segala yang dicipta hanya menjadi bayang-bayang Yang Mencipta, dan bayang-bayang bukanlah realita; bayang-bayang ini merefleksikan yang asli, Pencipantalah yang merupakan realita di atas segala realita yang dicipta. Jadi yang mau dijelaskan di sini adalah bahwa ada perbedan kualitatif atau perbedaan sifat dasar antara Pencipta dan yang dicipta (hlm 14).

2. Relasi sebagai ganti analogi. Orang Kristen hanya memiliki satu Kitab Suci, yaitu Alkitab yang terdiri dari Perjanjian Lama da Perjanjian Baru. Tetapi jika orang Krisen hanya memiliki satu Alkitab, bagaimana semua orang Kristen membacanya, bukankah harus antri? Tidak perlu, kita masing-masing bias membeli satu kitab. Apakah itu berarti orang Kristen mempunyai banyak kitab? Jawabannya tidak. Orang Kristen tetap hanya mempunyai satu kitab.Memang kitab saya bukan kitab kamu, dan kitab kamu bukan kitab saya. Tetapi kita semua hanya mempunyai satu kitab. Hal ini memberikan suatu gambaran yang terbatas lebih epat dari perumpamaan-perumpamaan sebelumnya (ini bukan analogi tetapi hanya merupakan relasi.3. Bagaimana menjelaskan bahwa Yesus adalah diri-Nya Allah dan Yesus adalah diri-Nya Anak Allah, namun Allah tetap satu. Bukankan dirinya manusia dan dirinya anak manusia berarti dua manusia? Karena Bapa saya dan saya (anak) adalah dua manusia, yang mempunyai tubuh berbeda (dua). Tetapi Allah berbeda dengan manusia, sebab Allah itu Roh adanya. Kita tidak boleh mengerti Allah dengan konsep manusia yang terbatas. Yang dicipta jangan mempersamakan Yang Mencipta dengan dirinya, Sebab wilayah Pencipta melampaui wilayah yang diciptakan, dan wilayah roh tidak sama dengan wilayah materi (hlm 69)

3. Istilah Tritunggal itu sendiri sebenarnya berasal dari Tertulianus; dia adalah orang pertama yang mencetuskan istilah Tritunggal. Setelah mempelajari Alkitab secara teliti, dia mengemukakana bahwa Kristus tidak lebih rendah dari Bapa, Roh Kudus tidak lebih rendah dari Kristus dan tidak lebih rendah dari Bapa. Sebagaimana Bapa adalah yang sejati, maka Anak Allah adalah Allah yang sejati, dan Roh Kudus juga Allah yang sejati. Sekalipun pada waktu itu konsep Tritunggal belum sempurna, namun setelah Tertulianus sudah mencapai keadaan yang sangat sehat (hlm 88).
4. Untuk menyangkal Gnostiksisme, Arianisme, Saksi Yehova, maupun Witness Lee, yang mengatakan bahwa Yesus adalah ciptaan Allah. Jawabannya adalah Allah melahirkan Yesus Kristus, Anak Alla yang Tunggal. Istilah melahirkan dapat menghentikan interpretasi bahwa Yesus diciptakan, sebab dilahirkan bukan cipta diciptakan, yang melahirkan dan yang dilahirkan mempunyai esensi yang sama (hlm 68).

5. Cara Allah menyatakan diri : Antropomorfe (LAI menggunakan huruf “M” besar) (hl. 41-45)

Kelebihan :

1. Doktrin tentang Allah Tritunggal sangat sulit bagi orang Kristen maupun bukan orang Kristen, tetapi buku ini telah memberikan penjelasan yang sangat baik dan luas berikut contoh-contoh yang dapat membantu pembaca untuk memahami tentang Allah Tritunggal.

2. Sekalipun penulis buku ini banyak memuat pernyataan-pernyataan dalam bahasa intelektual, tetapi juga diimbangi dengan penjelasan-penjelasan yang memuaskan.

3. Banyak memunculkan pertanyaan-pertanyaan yang menjadi perangsang berpikir secara kritis bagi pembaca, dan juga memberikan jawaban-jawaban atau pendekatan-pendekatan untuk persoalan tersebut.

Kelemahan : Sulit dimengerti oleh kaum awam karena gaya bahasa yang tinggi

Buku ini sangat penting dipelajari oleh dosen, hamba Tuhan, mahasiswa Teologi, untuk memperdalam kepercayaan, pengetahuan, agar dapat mengajar, bersaksi dan berapologet/mempertahankan/mempertanggungjawabkan imannya kepada Yesus Kristus.
Buku ini kurang/tidak cocok dibaca/dipelajari oleh kaum awam, oleh karena banyak istilah, kalimat, pernyataan yang sulit dimengerti oleh kaum awam.

(Oleh Evalita Harianja)
Read More

Contoh Resensi Buku Seri Mnajemen Konflik

Contoh Resensi Buku Seri Mnajemen Konflik
RESENSI BUKU
MENUNTASKAN MASALAK PELIK TANPA KONFLIK
(Adam Kahane)

A. MATERI INTI

Bagian I Masalah-masalah yang Pelik

• Masalah-masalah dunia yang pelik tidak dapat dipecahkan oleh orang-orang yang paling pandai karena dunia tidak memiliki satu jawaban yang benar.
• Dengan dibekali cek tanpa batas untuk pergi ke mana saja dan menemui siapa saja untuk melihat dan menciptakan tren baru, tetapi masalah tetap muncul.
• Dalam mengadakan konres dimulai dengan kelompok-kelompok kecil yang mengembangkan ide melalui sesi saran-saran. Dalam menyelesiakan masalah besar perlu proses-proses yang luar biasa yang melibatkan pemegang kepentingan dan dialog dan tindakan.

Bagian II Berbicara

• Memecahkan masalah-masalah sulit secara damai adalah membuka jalan komunikasi dan mau mendengar
• Tidak adanya dialog dan sikap mendengar adalah gejala kebuntuan
• Cara otoriter tidak cocok untuk memecahkan masalah yang kompleks
• Ketika seseorang bicara secara personal, dengan penuh semangat, dan kata-katanya muncul dari hati, percakapan menjadi mendalam. Ketika sebuah fion mengembangkan kebiasaan untuk berbicara secara terbuka maka masalah mulai begeser. Sebaliknya kebiasaan berbicara hati-hati secara berlebihan akan menutupi masalahnya dan membuatnya tetap buntu.
• Menyelesaikan masalah haruss berani angkat bicara, sekalipun resikonya berat: takut dibunuh, takut dipenjara, tidak disukai atau dianggap tidak sopan
• Berbicara tanpa mau mendengar akan merusak situasi/suasana

Bagian III Mendengarkan

• Untuk menciptakan realitas baru maka perlu:
a. mendengarkan kontribusi suara kita sendiri
b. melihat apa yang sedang kita lakukan
c. melihat diri sendiri sebagai actor yang mempengaruhi hasil
d. empati aalah suatu cara untuk meraih keberhasilan dalam mengubah banyak hal yaitu berbicara dari hati ke hati

Bagian IV Menciptakan Realitas Baru

• Perlu keberanian yaitu bersatu untuk perubahan yang berakar pada perasaan bersama
• Rintangan terbesar dalam mendengarkan ada;ah dorongan kita untuk berbicara dan bukan mendengarkan, untuk membuat penilaian dan bukan pengamatan
• Luka akan menjadi pelik bila peserta menjadi bagaian ingin menjadi contoh. Fasilitator dan pimpinan hanya membantu.

B. Kelebihan dan kekurangan/kelemahan buku

Kelebihan:

1. Walaupun buku ini merupakan buku kesaksian tetapi memuat kalimat-kalimat/perkataan yang membangun berupa dorongan maupun nasehat, khususnya bagi para pemimpin. Buku ini menarik dan actual untuk masa kini di Indonesia.
2. Berdasarkan pengalaman-pengalaman penulis melalui buku ini saya semakin memahami bahwa sepandai dan sekaya apapun manusia tetap akan menghadapi masalah/konflik. Oleh karena itu jika ada konflik/ masalah sulit , buku ini memberi dorongan agar diselesaikan dengan cara damai, supaya menjadi lebih baik dalam berbicara dan mendengarkan. Penulis juga memberikan 10 saran yang bermanfaat (bagian kesimpulan halaman 172-173).
3. Karena penulis adalah seorang Kristen maka ada hal-hal rohani / bermanfaat yang saya terima.

Kekurangan:

Penulis buku ini adalah seorang Kristen, tetapi tidak sedikitpun penulis memuat dalam tulisannya tentang apa kata Alkitab tentang menghadapi konflik.

C. Beberapa hal yang Menarik

1. Masalah yang kompleks hanya dapat dipecahkan secara damai, jika orang-orang yang menjadi bagian dari masalah tersebut bekerja sama secara kreatif untuk memahami situasi mereka dan memperbaikinya (hlm. 2-3).
Hal ini menjadi menarik oleh karena seringkali bila terjadi konflik, kedua belah pihak merasa diri benar dan paling benar, sehingga enggan untuk memikirkan cara bagaimana untuk menyelesiakannya apalagi untuk minta maaf. Satu pihak beranggapan lawan konfilknyalah yang harus berusaha datang dan minta maaf karena dialah yang salah, demikian sebaliknya.
Lembaga rohani/pelayanan sekalipun seringkali diakhiri dengan perpecahan oleh karena para pendiri, pengurus inti, donatur, masing-masing merasa dirinyalah yang paling berhak menentukan/ mengetok palu. Pemimpin tidak dapat menjadi pemimpin yang ideal: gagal)
Aplikasi: Setiap orang yang berkonflik hendaknya memahami bahwa konflik terjadi pastilah ada kekurangan/kesalahan/kelemahan kedua belah pihak, oleh karena kekurangan/kesalahan/kelemahan itulah maka terjadi konflik. Sehingga bila konflik sudah terjadi hindarilah merasa diri benar dan oranglain yang salah. Kedua belah pihak sebaiknya berusaha menyelesaikan dengan dialog. Bila konflik itu besar atau sulit maka kedua belah pihak perlu berusaha mencari orang yang benar-benar netral untuk menjadi mediator/fasilitator, agar terjadi dialog. Kedua belah pihak hendaknya sama-sama berbicaraterbuka/apa adanya karena dengan demikian masalah yang sedang mereka pecahkan mulai bergeser. Sebaliknya bila berbicara terlalu berhati-hati/berlebihan akan menutupi masalahnya dan membuatnya tetap buntu. Langkah selanjutnya mendengarkan secara terbuka (ini bahkan lebih sulit)
2. Tim dimulai dengan kelompok-kelompok kecil, yang menyumbangkan ide-ide melalui sesi sumbang-saran (brainstorming). Tim kecil ini akan berbicara tentang apa yang mungkin terjadi, terlepas dari apa yang mereka inginkan. Tim yang ada menemukan bahwa permainan scenario ini benar-benar membebaskan. Mereka menuturkan kisah-kisah dari revolusi sayap kiri, pemberontakan sayap kanan dan utopia pasar bebas (hlm. 28).
Hal ini menarik bagi saya karena hal apa yang diketahui oleh kelompok kecil belum tentu diketahui para pimpinan/lider. Aplikasi: Pimpinan dan jajarannya hendaknya memberi waktu untuk mendengarkan karyawan. Oleh karena apa yang diketahui atau dipikirkan oleh karyawan belum tentu sudah diketahui oleh para pimpinan, cara ini akan membuat semua orang yang menjadi bagian (mulai dari pimpinan sampai kepada karyawan terendah) dari lembaga, organisasi atau perusahaan tersebut akan merasa memiliki sehingga akan bekerja dengan bertanggungjawab, bekerja demi kemajuan lembaga bukan mencari keuntungan/gaji semata.
3. Kisah tentang seorang pria yang ingin mengubah dunia (hlm. 173).
Hal ini sangat menarik, karena ketika ia mengubah dirinya sendiri, keluarganya berubah juga. Ketika keluarganya berubah , lingkungannya berubah. Ketika lingkungannnya berubah, kotanya berubah. Kerika kotanya berubah, negaranya berubah, dan ketika negaranya berubah, dunia berubah.
Aplikasi: Lembaga pertama yang dibentuk oleh Tuhan adalah keluarga. Dalam keluarga ada Ayah-Ibu dan anak-anak. Kisah ini sangat cocok untuk lembaga yang paling kecil yaitu keluarga. Jika ayah menginginkan anak melakukan sesuatu, maka terlebih dahulu ayah harus melakukannya, dengan sendirinya anggota keluarga yang lain (istri dan anak-anak) akan melakukannya juga. Jika seorang pemimpin lembaga, organisasi atau perusahaan menginginkan semua karyawan bekerja dengan jujur, maka pimpinan harus terlebih dahulu menunjukkan kejujuran/transfaran, maka dengan sendirinya seluruh karyawan akan mengikuti kejujuran pimpinan. Oleh karena itu jangan berpimpi mengubah dunia tetapi mulailah dari merubah diri sendiri .

(Evelita Harianja)

Read More

Contoh Laporan Devosi

Contoh Laporan Devosi
CONTOH LAPORAN KHUSUS KEGIATAN DEVOTION
Kls 1-A, Smstr 1 (2012/2013)

No N a m a dan Keterangan:

Pembentukan perilaku yang meliputi agama

Nama: Lukas (bukan nama sebenarnya)

1. Mampu dalam bangga dan gembira sebagai anak Allah, sudah baik, hanya perlu bimbingan/dukungan dari orang tua agar lebih aktif dalam kegiatan Devotion
2. Pemahaman bahwa berdoa adalah bebicara kepada Tuhan sudah baik.
3. Keberanian dalam memimpin doa sudah baik
4. Minat terhadap cerita Alkitab khususnya tokoh-tokoh yang berhubungan dengan “ketaatan” sudah baik.
5. Sopan dalam bertingkah laku sudah baik

Nama: Yohanes

1. Mampu dalam bangga dan gembira sebagai anak Allah, masih perlu bimbingan 2. Pemahaman bahwa berdoa adalah bebicara kepada Tuhan masih perlu bimbingan.. 3. Keberanian dalam memimpin doa masih perlu bimbingan 4. Minat terhadap cerita Alkitab, kususnya tokoh-tokoh yang berhubungan dengan “ketaatan” masih perlu bimbingan dan dukungan dari orang tua agar lebih aktif dalam kegiatan Devotion
5. Sopan dalam bertingkah laku sudah baik

3 E 1. Mampu dalam bangga dan gembira sebagai anak Allah, sudah baik, hanya perlu perhatian khusus karena sering sibuk/mengobrol. 2. Pemahaman bahwa berdoa adalah bebicara kepada Tuhan sudah baik.. 3. Keberanian dalam memimpin doa sudah baik, hanya memimpin doa dengan kata/kalimat sendiri masih perlu bimbingan 4. Minat terhadap cerita Alkitab, khususnya kisah tokoh-tokoh yang berhunungan dengan “ketaatan” sudah baik. 5. Sopan dalam bertingkah laku sudah baik
4
Nama Lisias

G 1. Mampu dalam bangga dan gembira sebagai anak Allah, sudah baik.
2. Pemahaman bahwa berdoa adalah bebicara kepada Tuhan sudah baik..
3. Keberanian dalam memimpin doa, dengan kata/kalimat sendiri sudah baik
4. Minat terhadap cerita Alkitab, khususnya tokoh-tokoh yang berhunungan dengan “ketaatan” sudah baik.
5. Sopan dalam bertingkah laku sudah baik
Nama: Alex
1. Mampu dalam bangga dan gembira sebagai anak Allah, sudah baik.
2. Pemahaman bahwa berdoa adalah bebicara kepada Tuhan sudah baik.. 3. Keberanian dalam memimpin doa, dengan kata/kalimat sendiri sudah baik 4. Minat terhadap cerita Alkitab, khususnya kisah tokoh-tokoh yang berhubungan dengan “ketaatan” sudah baik. 5. Sopan dalam bertingkah laku sudah baik
Nama: Timotius
1. Mampu dalam bangga dan gembira sebagai anak Allah, sudah baik. 2. Pemahaman bahwa berdoa adalah bebicara kepada Tuhan sudah baik.. 3. Keberanian dalam memimpin doa, dengan kata/kalimat sendiri masih perlu bimbingan 4. Minat terhadap cerita Alkitab, khususnya kisah tokoh-tokoh yang berhubungan dengan “ketaatan” sudah baik.
5. Sopan dalam bertingkah laku sudah baik

Nama Maria
7 O 1. Mampu dalam bangga dan gembira sebagai anak Allah masih perlu bimbingan. 2. Pemahaman bahwa berdoa adalah bebicara kepada Tuhan sudah baik.. 3. Keberanian dalam memimpin doa, dengan kata/kalimat sendiri masih perlu bimbingan 4. Minat terhadap cerita Alkitab, khususnya kisah tokoh-tokoh yang berhubungan dengan “ketaatan” masih perlu bimbingan dan dukungan dari orang tua agar lebih aktif dalam kegiatan Devotion
5. Sopan dalam bertingkah laku sudah baik
8 Je 1. Mampu dalam bangga dan gembira sebagai anak Allah sudah baik
2. Pemahaman bahwa berdoa adalah bebicara kepada Tuhan sudah baik..
3. Keberanian dalam memimpin doa, dengan kata/kalimat sendiri masih perlu bimbingan
4. Minat terhadap cerita Alkitab, khususnya tokoh-tokoh yang berhubungan dengan “ketaatan” masih perlu bimbingan.
5. Sopan dalam bertingkah laku sudah baik
9 Hi 1. Mampu dalam bangga dan gembira sebagai anak Allah sudah baik
2. Pemahaman bahwa berdoa adalah bebicara kepada Tuhan sudah baik..
3. Keberanian dalam memimpin doa, dengan kata/kalimat sendiri masih perlu bimbingan
4. Minat terhadap cerita Alkitab, khususnya tokoh-tokoh yang berhubungan dengan “ketaatan” sudah baik.
5. Sopan dalam bertingkah laku sudah baik
10 B 1. Mampu dalam bangga dan gembira sebagai anak Allah sudah baik
2. Pemahaman bahwa berdoa adalah bebicara kepada Tuhan sudah baik..
3. Keberanian dalam memimpin doa, dengan kata/kalimat sendiri masih perlu bimbingan
4. Minat terhadap cerita Alkitab, khususnya tokoh-tokoh yang berhubungan dengan “ketaatan” sudah baik.
5.Sopan dalam bertingkah laku sudah baik

Nama: Mazmur
11 By 1. Mampu dalam bangga dan gembira sebagai anak Allah masih perlu bimbingan
2. Pemahaman bahwa berdoa adalah bebicara kepada Tuhan sudah baik..
3. Keberanian dalam memimpin doa, dengan kata/kalimat sendiri sudah baik
4. Minat terhadap cerita Alkitab, khususnya kisah tokoh-tokoh yang berhubungan dengan “ketaatan” sudah baik, hanya mash perlu dukungan dari orang tua agar lebih aktif dalam kegiatan Devotion.
5. Sopan dalam bertingkah laku sudah baik.

Jakarta, 9 Desember 2012 Evelita Harianja Pembina Rohani
Read More

Pemuridan dalam Terminologi Iman Kristen

Pemuridan dalam Terminologi Iman Kristen
Secra kamus, “murid” berarti seorang yang sedang berguru atau belajar.(KBBI). Sementara dalam Ensiklopedia Alkitab masa kini jilid II, kata murid atau pemuridan adalah kegiatan yang berfokus kepada pemberian pengajaran kepada orang lain. Bila kita perhatikan lagi dalam bahasa lain seperti Inggris, kata yang dipakai untuk murid yakni “disciple” yang oleh Walter diartikan seorang murid harus taat kepada disiplin yang berlaku bagi seorang murid (Hendrichsen A. Walter,1977:20). Dalam bahasa Yunan, kata yang dipakai untuk murid yaitu Mathetes. Kata ini memiliki arti pupil atau disciple atau pelajar. Kata pupil dipakai untuk menegaskan relasi antara guru dengan muridnya. Sedangkan kata disciple dipakai untuk menegaskan suatu proses yang dijalani oleh seorang murid. Dalam konteks pemahaman ini kita dapat memahami kata manthano artinya belajar atau menguji. Menjadi matheteuo berarti proses menjadi murid atau kita juga bisa artikan membuat murid (to make disciples). Ada pula kata , matheteuein yang berarti menjadikan murid, dan akoulouthein berarti mengikut. Bagaimana kita menarik benang merah atas beberapa kata di atas, berdasarkan arti kata-kata di atas kita berkesimpulan bahwa seorang murid adalah seorang yang senantiasa mengikuti gurunya dan mengalami proses belajar (berubah) sampai kepada proses ujian, yang membuktikan bahwa seorang murid telah telah terbentuk dari seorang guru.

Menurut Carlos, “pemuridan merupakan penyampaian kehidupan, pemuridan lebih dari sekedar menjadi tahu apa yang diketahui oleh sang guru. Pemuridan itu proses menjadi seperti sang guru. Itu sebabnya Alkitab mengatakan bahwa kita akan menjadi murid-murid ini lebih jauh dari sekedar berbicara di depan mereka, memenangkan mereka atau menyuruh mereka. Menjadikan berarti membuat suatu tiruan, oleh sebab itu jelaslah bahwa guru itu sendiri haruslah menjadi seorang murid (Juan Carlos, 1993: 121)

Pemuridan adalah suatu proses untuk menjadi seorang murid yang diajar dan dilatih supaya dapat menjadi serupa dengan Kristus. Jadi, seorang murid Kristus sejati tidak hanya mengerti, memahami ajaran-ajaran TuhanYesus, melainkan juga mengikuti jalan hidup dan semua ajaran-Nya. Hasil dari proses belajar ini adalah ajaran Kristus itu nampak dalam seluruh aspek kehidupannya yang sering disebut dalam suratan Paulus sebagai kepenuhan Kristus.

Dalam pemuridan faktor mengajar dan melatih sangat berkaitan, mengajar biasanya berarti membagikan pengetahuan, sedangkan melatih memberi kesan pembentukan atau menyanggupkan lewat praktik dan disiplin.
Dalam pemuridan ada persiapan murid-murid untuk menjadi pemimpin yang membutuhkan kemampuan pengetahuan, kecakapan rohani dalam melaksanakan proses memuridkan yang lain.

Read More

Pemanfaatan Produk Google dalam Pembelajaran yang Menyenangkan

Pemanfaatan Produk Google dalam Pembelajaran yang Menyenangkan
Produk Google Untuk Pendidik Bila kita membaca di internet maka kita akan mengetahui bahwa ada banyak produk google. Google sangat kreatif dan efektif dalam menghasilkan produk-produk yang berguna bagi siapa saja khususnya bagi kita yang berprofesi sebagai pendidik. Beberapa produk google yang dapat dimanfaatkan oleh guru dan peserta didik, yaitu:

1. Email dari gmail.com

Bagi guru, dosen serta peserta didik yang menggunakan email dari gmail.com maka ia sebenarnya sedang memanfaatkan produk google. Email Gmail adalam milik perusahan raksasa yaitu Google. Itulah sebabnya mereka yang menggunakan email dari gmail akan diuntungkan dalam banyak hal. Salah satunya yakni di email ada beberapa produk yang sudah tersedia atau terintegrasi dengan email dari gmail :

Akun Google

1.1.Telusuri
1.2.Maps
1.3.YouTube
1.4.Berita
1.5.Gmail 1.6.Kontak
1.7.Drive
1.8.Kalender
1.9.GooglePlus
1.10.Terjemahan
1.11.Foto
1.12.Google Kelas, Google for education
1.13.Koleksi
1.14.Buku
1.15.Belanja
1.16.Keep
1.17.Koleksi
1.18.Dokumentasi
dll Ke-18 belas produk google yang muncul dalam email gmail tentu masih ada tambahan lainnya yang bila ditelusuri maka akan semakin banyak dan jumlahnya di atas 100 produk. Produk-produk tersebut di atas masing-masing memiliki fungsi yang berbeda-beda. Dengan fungsi yang ada pada produk-produk google tersebut para guru, dosen dan peserta didik dapat menggunakannya untuk tugas yang berhubungan dengan kegiatan guru, dosen dan peserta didik, selain itu kita juga dapat memnafaatkan untuk ragam keperluan seperti untuk bisnis dan mendapatkan penghasilan online.
Saya menggunakan email untuk mengirim surat elektronik dalamkonteks kegiatan saya sebagai pendidik, menerima tugas-tugas mahasiswa yang dikirim via email. Saya juga menggunakan email untuk menyimpan data saya dari gangguan firus. Penyimpanan ini menolong saya untuk menggunakannya ketika hendak mengajar. Bahan yang disimpan di flashdisk sering terkena firus. Oleh karena itu saya menyimpan data di email, khususnya di google drive.

2. Blogspot

Blogspot adalah salah satu produk google. Kita dapat menggunakan blogspot untukragam keperluan. Salah satunya yaitu untuk mempostinga artikel-artikel berupa bahan ajar, motivasi belajar, motivasi kerja, informasi berupa edukasi dalam hal urusan rumah tangga, masak, mencusi dan lain sebagainya.
Kita dapat membuat blog khusus untuk memposting bahan ajar agar dapat dipelajari oleh peserta didik yang mengikuti materi ajar kita dan juga dapat berguna bagi komunitas pendidikan. Dalam hal ini blogspot dapat dimanfaatkan untuk menjadi bahan ajar atau media pembelajaran yang bersifat online.Silakan membuat blog dengan klik www.blogger.com

Bila kita punya email darigmail maka kita dapat menggunakan fasilitas Google Plus untuk mempromosikan atau tepatnya memfiralkan artikel kita pada 10 besar halaman google. Dengan demikian blog kita gampang ditemukan pengunjung.

3. Google Kelas
Kita dapat mencoba google kelas untuk proses belajar mengajar yang kita lakukan. Tentu produk google dalam mendukung dunia pendidikan yang salah satunya yakni google kelas dapat kita pelajari secara baik melalui studi mandiri melalui internet berupa pelajaran-pelajaran tentang google kelas di website dan juga melalui YouTube. Google tentu menjadi guru bagi kita dalam banyak hal. Bila kita tidak tahu maka tanya kepada Google maka ada jawaban di Google

4. YouTube

Youtube dapat digunakan oleh para pendidik sebagai media pembelajaran yang menyenangkan. Buatlah rekaman-rekaman pengajaran, eksperimen dll kemudian rekam dengan menggunakan handphone atau video rekaman kemudian apload ke YouTube dan jadikan sebagai media dalam pembelajaran untuk materi ajar kita ketika kita mengajar di kelas.

Selamat memanfaatkan produk google untuk proses pembelajaran yang menyenangkan Salam
Read More

Silabus Kode Etik dan Profesionalisme Guru PAK

Silabus Kode Etik dan Profesionalisme Guru PAK
SILABUS
I. Identitas Mata Kuliah
Nama Mata Kuliah : Kode Etik dan Profesionalisme Guru PAK
Pengajar : Evalita Harianja, M.Pd.K.
Semester : IV PAK
Hari Pertemuan : Kamis, Pukul 10.00 – 11.40 WIB
Tempat Pertemuan : Kampus Sekolah Tinggi Teologi Pokok Anggur Jakarta

II. Manfaat Mata Kuliah


Mahasiswa diharapkan memahami teori-teori profesi guru, serta mampu meneladani Yesus Kristus sebagai Guru Agung. Hal ini mengacu pada cara Yesus mengajar serta mengkomunikasikan ajaran-Nya kepada murid-murid-Nya dan orang lain. Mempunyai kemampuan yang memadai tentang kode etik dan profesi keguruan, memiliki professional yang tinggi, serta menunjukkan perilaku sebagai guru PAK yang patut diteladani. Mahasiswa ditolong mengembangkan kemampuan sebagai guru PAK sesuai dengan tuntutan konteks dan zaman, khususnya dalam rangka mengembangkan profesionalisme dalam mengajar, menguasai sejumlah kompetensi yang telah dirumuskan sebagai kompetensi guru PAK, serta mengembangkan proses belajar mengajar berbasis kompetensi.

III. Deskripsi Mata Kuliah


Demi mencapai standar kemampuan yang diharapkan dalam mata kuliah ini maka ruang lingkup pembahasan materi kuliah ini difokuskan pada beberapa kompetensi dasar dan indikatornya. Proses pembelajaran mata kuliah ini dirancang dalam 2 pokok bahasan utama dengan sejumlah indicator yaitu: Teori-teori kode etik dan Profesi keguruan, serta praktik penyusunan Kode Etik dan profesi keguruan di SD, SMP dan SMA/SMK/SMTK di tempat yang disepakati dalam kontrak pembelajaran

V. Kompetensi Dasar dan Indikator

Pada akhir perkuliahan ini mahasiswa menunjukkan kemampuan dalam mendemonstrasikan setiap kompetensi dasar yang ditandai dengan indikator-indikator sbb:
1. Dasar Teologis “Kode Etik dan Profesionalisme Guru dalam Alkitab

1.1. kode etik dan profesionalisme guru/pengajar dalam Alkitab
1.2. guru pengajar dalam Alkitab
1.3. “mengajar” dalam Alkitab
1.4. Mandata mengajar dalam Amanat Agung / Matius 28

2. Wawasan Preofesi & Keguruan PAK
1.1. Pengertian Profesi
1.2. Ciri-ciri Profesi
1.3. Prinsip-prinsip Etika Profesi
1.4. Syarat-syarat Profesi
1.5. Perkembangan Profesi Keguruan

3. Kompetensi Guru dan Aplikasinya
3.1. Pengertian Kompetensi
3.2. Dimensi-dimensi/macam-macam kompetensi yang harus dimiliki oleh tenaga guru
3.3. Prinsip-prinsip Mengajar

4. Peranana/Fungsi dan Tanggungjawab Guru
4.1. Peran/fungsi
4.2.Tanggung Jawab Guru
5. Yesus Sang Guru Agung
5.1. Karakter Yesus Kristus Sebagai Guru Agung
5.2.Yesus Mengajar Menggunakan Metodologi Kreatif dan Kontekstual
6. Kode Etik Guru PAK yang Profesional
6.1.Pengertian Kode Etik & Profesional
6.2.Kode Etik Guru Indonesia
6.3.Rumusan Kode Etik Guru Pendidikan Agama Kristen
6.4.Fungsi Kode Etik Guru
6.5.Etika Profesi
6.6.Hubungan Guru PAK dengan Profesinya

7. Praktik Menyusun Kode Etik Guru (SD, SMP, SMU/SMK/SMTK)
7.1. Kelompok Kode Etik Guru PAK di SD
7.2. Kelompok Kode Etik Guru PAK di SMP
7.3. Kelompok Kode Etik Guru PAK di SMU/SMK/SMTK

5. Organisasi Materi Kuliah

Pendahuluan

1. Dasar Teologis “Kode Etik dan Profesionalisme Guru dalam Alkitab

a. kode etik dan profesionalisme guru/pengajar dalam Alkitab
b. guru pengajar dalam Alkitab
c. “mengajar” dalam Alkitab
d. Mandata mengajar dalam Amanat Agung dalam Matius 28

2. Menjelaskan teori-teori Kode Etik dan Profesionalisme Guru dengan indicator:
a. Menjelaskan pengertian etika
b. Menjelaskan pengertian moral
c. Menjelaskan Pengertian Kode Etik dan Profesionalisme Guru
d. Kode Etik Guru
e. Profesionalisme Guru

3. Menyusun kode etik guru di tempat tugas
a. Kode Etik Guru SD
b. Kode etik Guru SMP
c. Kode Etik Guru SMU/SMA/SMK/SMTK

. Penutup

4. Pendekatan dan Strategi Pembelajaran

Pendekatan Pembelajaran :

Pendekatan yang dipakai dalam proses pembelajaran mata kuliah ini yaitu: Pembelajaran berbasis Mahasiswa (pendekatan rekonstruktifistik : ceramah, tanya jawab, presentasi)

5. Sumber-sumber Belajar

I. Bahan Ajar Utama:
Drs. Andar Gultom, Profesionalisme, Standar Kompetensi, Dan Pengembangan Profesi Guru PAK (Bandung: Bina Media Informasi, 2007)
Em Budhiadi Henoch, Pendidikan Agama Kristen Selayang Pandang (Bandung: Bina Media Informasi, 2007) Usman, Moh. Uzer, Menjadi Guru Profesional, Bandung, Remaja Rosdakarya, 2001 Jhon M. Nainggolan, Menjadi Guru Agama Kristen (Bandung: Bina Media Informasi, 2007) John M. Nainggolan, Pendidikan Agama Kristen Dalam Masyarakat Majemuk (Bandung: Bina Media Informasi, 2009)
John M. Nainngolan, Menjadi Guru Agama Kristen (Bandung: Generasi Info Media, 2007)
Kamus Besar Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 2007)
Pdt. Jansen Belandina Non-Serrano, Profesionalisme Guru dan Bingkai Materi (Bandung: Bina Media Informasi, 2009)
Sidjabat, B.S, Menjadi Guru Profesional: sebuah perspektif kristiani, Bandung, Yayasan Kalam Hidup, 1994
Hamzah B. Uno, Profesi Keguruan (Jakarta: Bumi Aksara, 2008)
Sahertian, Piet A, Profil Pendidik Profesional, Yogyakarta, Andi Offset, 1994
E.G Homrighausen dan I.H Enhklaar, Pendidikan Agama Kristen ( Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993)
Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan baru (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2008)
Muhammat Rahman, Sofan Amri, Kode Etik Profesi Guru: Legalitas, Realitas dan Harapan Wacana untuk Menunjang dan Menjadikan Guru Profesional (Jakarta : Prestasi Pustaka, 2014)
Soetjipto, Rafis Kosasi, Profesi Keguruan, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2009
Harian Kompas, Masalah Pendidikan Indonesia (Jakarta: 2008)
Yonas Muanley, M.Th. Weblog: http://pengawasguruagamakristendki.blogspot.com/
http://beta.pikiran-rakyat.com/index.php?mib=beritadetail&id=9232
http://alkitab.sabda.org/resource.php?topic=724&res=jpz
http://pepak.sabda.org/13/aug
/2003/anak_prinsip_belajar_mengajar_yang_efektif_hubungannya_dengan_hukum_mengajar
Harian Kompas, Masalah Pendidikan Indonesia (Jakarta: 2008)
http://beta.pikiran-rakyat.com/index.php?mib=betadetail&id=923
http://alkitab.sabda.org/resource.php?topic=724&res=jpz
http://pepak.sabda.org/13/aug
/2003/anak_prinsip_belajar_mengajar_yang_efektif_hubungannya_dengan_hukum_mengajar

Penilaian Penilaian akan dilakukan dosen dengan penggunaan criteria/standar STT Pokok Anggur.
Angka Huruf Bobot
95 – 100 A 4,00
90 – 94 A - 3,77
85 – 89 B + 3,33
80 – 84 B 3,00
75 – 79 B - 2,77
70 – 74 C + 2,33
65 – 69 C 2,00

Kriteria Penilaian
1. Penilaian Proses
Keterlibatan mahasiswa
Kemampuan menjawab pertanyaan
Kemampuan bertanya
Kemampuan berpendapat
Kemampuan praktik menyusun kode etik guru PAK
2. Penilaian Hasil
Laporan tugas
Hasil UTS
Hasil UAS
Kriteria Penilaian:
Nilai Akhir ditentukan dengan pembobotan terhadap beberapa tugas sbb:

Hadir dan aktif di kelas : 10 %
Menyusun dan Presentase Kode Etik Guru SD,SMP, SMA : 25 %
Resensi Buku : 20 % (Kumpul saat UAS) 300 hlm = 10 - 15 hlm
UTS : 20 %
UAS : 25 %

• Keterlambatan mengumpul tugas dipotong nilai 3 % dari nilai tugas.
• Terlambat masuk kelas paling lama 15 menit. = menyanyi (lagu dan gerak)
• Alpa 3x dianggap gugur (a,i,s) kecuali ada rekmndsi dr bp/ibu asrama atau acara lembaga.
• Pakaian wanita : boleh cln pnjg (bahan), rok dibawah lutut (bukan levis),Kaos berkerah
• Putra: celana boleh levis
• Hp: Boleh dibawa ke kelas (tdk mengganggu). Ketika kelas dimulai semua HP ada di meja dosen (untuk merekam)

6. Jadwal Pembelajaran

Jadwal Kontrak Perkuliahan
Pertemuan Minggu ke Materi Perkuliahan Sumber Belajar Keterangan
1 Perkenalan
Penjelasan:
Silabus
Kontrak Pembelajaran
RPP/SAP
Diskusi
2 Dasar Teologis “Kode Etik dan Profesionalisme Guru dalam Alkitab Bahan Ajar
3 Dasar Teologis “Kode Etik dan Profesionalisme Guru dalam Alkitab Bahan ajar
4 Wawasan Preofesi & Keguruan PAK Bahan ajar
5 Wawasan Preofesi & Keguruan PAK Bahan ajar
6 Kompetensi Guru dan Aplikasinya Bahan ajar
7 Peranana/Fungsi dan Tanggungjawab Guru Bahan ajar
8 Ujian Tengah Semester Bahan ajar
9 Yesus Sang Guru Agung Bahan ajar
10 Yesus Sang Guru Agung Bahan ajar
11 Kode Etik dan Profesionalisme Guru PAK Bahan ajar
12 Kode Etik Guru PAK yang Profesional Bahan ajar
13 Menyusun Kode Etik Guru PAK SD, SMP, SMU Bahan ajar
14 Presentasi Bahan ajar
15 Presentasi Bahan ajar
16 Ujian Akhir Semester Bahan ajar Soal subjektif

Oleh: Evalita Harianja, M.Pd.K

Read More
[facebook]